Militer nasional mulai Rabu (22/6) hingga Minggu (26/6), menggelar Latihan Kesiapan Tempur Reaksi Cepat selama 5 hari 4 malam. Pada hari pertama latihan, Brigade 269 Angkatan Darat yang bermarkas di Taoyuan mengerahkan berbagai jenis kendaraan militer menuju fasilitas-fasilitas vital di wilayah utara guna menyimulasikan respons masa perang.
Latihan ini sekaligus menjadi babak pembuka dari trilogi pelatihan pasukan militer nasional, yang akan berpuncak pada Latihan Han Kuang di bulan Agustus mendatang. Pengamat menganalisis bahwa militer Taiwan saat ini memiliki banyak persenjataan baru, sehingga Latihan Kesiapan Tempur Reaksi Cepat kali ini dapat dipandang sebagai Han Kuang berskala kecil, yang bertujuan agar para prajurit semakin piawai dalam mengoperasikan persenjataan tersebut.
Di atas kendaraan tempur lapis baja beroda delapan CM-32, para prajurit bersenjata lengkap bersiaga penuh. Angkatan Darat mengerahkan kendaraan tempur lapis baja buatan dalam negeri yang saat ini memiliki mobilitas tertinggi dan perlindungan terbaik, menandai hari pertama Latihan Kesiapan Tempur Reaksi Cepat.
Di belakangnya, mengekor tank CM-11 yang dibekali kemampuan menembak sambil bergerak yang tangguh serta kemampuan tempur dan penglihatan malam (night vision). Deretan kendaraan tempur ini bertolak dari markas Brigade 269 Angkatan Darat menuju berbagai infrastruktur penting di kawasan Taoyuan untuk simulasi respons masa perang, sekaligus menyingkap tirai latihan yang akan berlangsung selama 5 hari 4 malam tersebut.
Ini merupakan babak pembuka dari trilogi pelatihan pasukan militer nasional. Selanjutnya, Latihan Pertahanan Gabungan akan memulai debutnya pada pertengahan Juli, disusul oleh acara puncak, yakni Simulasi Han Kuang ke-42 pada awal Agustus.
Lin Ying-yu (林穎佑), Profesor Institut Urusan Internasional dan Studi Strategis, Universitas Tamkang, mengatakan, “Sebagai pendahuluan sebelum (Latihan) Han Kuang di bulan Agustus, ini ibarat sebuah Han Kuang berskala kecil. Kita sebenarnya memiliki banyak persenjataan baru. Nah, bagaimana senjata-senjata baru ini dapat menunjukkan kekuatan kita dalam Latihan Han Kuang nanti, saya rasa aspek inilah yang menjadi tujuan utama dari Latihan Kesiapan Tempur Reaksi Cepat kali ini."
Di saat militer nasional memamerkan hasil pelatihan rutinnya melalui latihan tempur, gangguan militer Tiongkok terhadap Taiwan juga tak kunjung usai. Kementerian Pertahanan Nasional pada Selasa kemarin (21/6) mendeteksi 19 jet tempur Tiongkok memasuki wilayah udara barat daya Taiwan dan Pasifik Barat untuk menjalankan pelayaran jarak jauh di laut lepas.
Su Tzu-yun (蘇紫雲), Direktur Institut Strategi Pertahanan dan Sumber Daya, Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional (INDSR), mengatakan, “Langkah Tiongkok memulai apa yang disebut sebagai pelatihan pelayaran jarak jauh di laut lepas, sebenarnya seperti yang disebutkan oleh media asing, merupakan bentuk pengetatan kebijakan terhadap Taiwan. Mereka berupaya menekan Taiwan, serta berusaha membentuk narasi bahwa Selat Taiwan dan Rantai Kepulauan Pertama berada di bawah yurisdiksinya, atau yang disebut oleh otoritas Beijing sebagai konsep hak tata kelola."
Menghadapi tekanan militer Tiongkok yang kian meningkat, militer nasional terus menjaga kedaulatan wilayah negara melalui latihan berbasis tempur nyata.