Sungguh mengejutkan, ada pasukan siber Tiongkok yang memalsukan identitas untuk memata-matai informasi rahasia! Belakangan ini, sejumlah tokoh politik dan akademisi di Taiwan menerima email undangan wawancara dari pihak yang mengaku sebagai Pemimpin Redaksi Majalah CommonWealth atau Konsorsium Internasional Jurnalis Investigasi (ICIJ). Mereka juga mengirimkan tautan berisi program malware melalui LINE.
Kejaksaan dan kepolisian yang menelusuri jejak tersebut melakukan penggeledahan dan pemeriksaan terhadap sebuah perusahaan Taiwan yang membantu mengumpulkan nomor ponsel dan akun LINE. Ditemukan bahwa ada pihak dari Tiongkok yang membeli akun-akun tersebut untuk melakukan aktivitas spionase dengan identitas palsu.
Bahkan, asisten Legislator Lo Mei-ling (羅美玲) pernah menerima tautan serupa. Dua penanggung jawab perusahaan Taiwan tersebut, karena mengakui kejahatannya dan mengembalikan hasil kejahatan, dijatuhi hukuman penangguhan penuntutan oleh kejaksaan negeri atas pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Sejumlah besar personel Biro Investigasi memasuki kantor untuk melakukan penggeledahan, membalik-balik dokumen terkait dengan saksama. Pasalnya, perusahaan ini diduga menyewakan akun LINE kepada pasukan siber Tiongkok untuk memata-matai informasi rahasia. Semuanya bermula dari aplikasi pesan instan yang paling sering digunakan oleh masyarakat Taiwan.
Sebuah perusahaan teknologi informasi di Xiamen, Tiongkok, awalnya menghubungi pengusaha Taiwan untuk membantu mengumpulkan nomor ponsel guna mendaftar akun LINE. Akun-akun tersebut kemudian disewakan kepada pihak Tiongkok dengan harga RMB1.100 per akun.
Secara berturut-turut, mereka memalsukan identitas Pemimpin Redaksi Majalah CommonWealth, Chen Yi-shan (陳一姍), serta Konsorsium Internasional Jurnalis Investigasi, untuk menghubungi tokoh politik dan akademisi Taiwan.
Melalui pertemanan di LINE, mereka mengirimkan perangkat lunak terenkripsi yang disisipi program malware, memikat korban untuk mengunduhnya guna meretas perangkat dan mencuri data. Sebelumnya, COO perusahaan Watchout, Hung Kuo-chun (洪國鈞), pernah menerima email serupa yang mengarahkannya untuk memasukkan akun dan kata sandi Google yang asli. Asisten urusan legislasi dari Legislator Lo Mei-ling juga menerima email yang sama.
Anggota legislator Lo Mei-ling, mengatakan, “Mereka meminta asisten kami untuk menerima kerangka pertanyaan itu, lalu asisten menyadari bahwa (berkas) tersebut dienkripsi. Saat hal ini disampaikan, kami katakan tidak bisa, segera lapor polisi. Kami merasa ini adalah semacam penipuan, atau infiltrasi dan sejenisnya.”
Saat itu, publik sudah mencurigai bahwa pelakunya adalah pihak Tiongkok. Penggeledahan dan penyelidikan oleh kejaksaan dan kepolisian pun membenarkan dugaan tersebut. Saat didatangi langsung, kantor perusahaan Abigail (愛彼蓋爾) yang terletak di Kota Taipei tampak terkunci rapat tanpa ada karyawan yang bekerja.
Kepala Seksi Biro Investigasi Cabang Kota Taipei, Pan Chi-hsiang (潘季翔), mengatakan, “Atas instruksi pasukan siber Tiongkok, mereka mengumpulkan nomor ponsel di Taiwan untuk mendaftarkan akun LINE, lalu menyewakannya untuk digunakan oleh pasukan siber Tiongkok. Seluruh kasus ini telah selesai diselidiki oleh jaksa, dan kedua tersangka diberikan sanksi penangguhan penuntutan.”
Kepala Jaksa Kejaksaan Negeri Shilin, Chang Chih-ming (張志明), mengatakan, “Kedua terdakwa masing-masing harus membayar NT$120.000 dan NT$50.000 ke kas negara."
Infiltrasi pihak Tiongkok masuk tanpa celah, bahkan menargetkan tokoh politik dan akademisi. Menghadapi metode serangan yang terus berkembang setiap harinya, kewaspadaan harus terus ditingkatkan.
27/07/2026
24/07/2026