Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Rambut Merah dan Mata Biru Kehijauan, Warga Sulap Jenderal Belanda Jadi Dewa Pelindung Desa

16/07/2026 Kedai RTISI
Rambut Merah dan Mata Biru Kehijauan, Warga Sulap Jenderal Belanda Jadi Dewa Pelindung Desa (RtiSI)
Rambut Merah dan Mata Biru Kehijauan, Warga Sulap Jenderal Belanda Jadi Dewa Pelindung Desa (RtiSI)

Di kawasan Shuilin di Kabupaten Yunlin, terdapat pemujaan terhadap patung dewa Jenderal Luyou (綠佑將軍) yang sarat akan sejarah lebih dari 300 tahun. Kisahnya bermula pada akhir era Dinasti Ming, ketika orang-orang Belanda datang ke Taiwan untuk memperdagangkan kulit rusa.

Seorang jenderal yang meninggal dunia akibat penyakit, hadir lewat mimpi dan meminta agar dibangunkan kuil untuk pemujaannya. Warga setempat lantas memahat patung sang jenderal sesuai dengan petunjuk di alam mimpi. Bahkan, orang Belanda yang melihat patung tersebut berseru takjub dan menyebutnya sebagai rekan senegara mereka.

Di sisi lain, Kuil Futian di Miaoli memuja papan arwah seorang perwira polisi Jepang, Hiroeda Otoemon. Pihak kuil menuturkan bahwa pada masa Perang Dunia II, ia mengorbankan dirinya demi menyelamatkan lebih dari 2.000 tentara Jepang asal Taiwan. Usai perang, para bawahannya kembali ke Taiwan dan menempatkan papan arwahnya di sana sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.

Beralis merah, bermata biru kehijauan, serta memiliki rambut merah yang terurai panjang. Tangan kiri patung dewa ini menggenggam bendera komando, sementara tangan kanannya memegang bagua. Dibalut baju zirah emas dengan kaki yang menginjak naga dan harimau, wujudnya memancarkan perpaduan gaya Timur dan Barat. Inilah Jenderal Luyou, Dewa Pelindung Desa Chegang, Shuilin di Kabupaten Yunlin.

Kuil Jenderal Luyou telah berdiri melintasi zaman selama lebih dari tiga abad. Pada akhir era Dinasti Ming, orang-orang Belanda menjejakkan kaki di Taiwan dan melakukan transaksi perdagangan kulit rusa dengan warga di Desa Chegang. Setelah seorang jenderal wafat karena sakit, ia memberikan petunjuk lewat mimpi kepada penduduk setempat, meminta agar dibangunkan kuil untuknya. Warga pun bergotong royong mengumpulkan dana dan memahat patung dewa sesuai dengan wujud jenderal yang muncul di dalam mimpi tersebut.

Ketua Asosiasi Komunitas Xinglong, Wu Wu-sung (吳武松), mengatakan, “Ia menampakkan wajahnya kepada seorang wanita di desa dan berkata ingin menjadi dewa. Wanita itulah yang kemudian meminta agar wujud yang dilihatnya dipahat menjadi patung emas sang jenderal.”

Kuil Jenderal Luyou yang memuja sosok asal Belanda ini sontak menarik perhatian publik. Bahkan, perwakilan pendiri Intelligent Community Forum (ICF) asal Eropa yang juga berkewarganegaraan Belanda, Peter Portheine, saat berkunjung ke Yunlin pada tahun 2024, berseru takjub melihat wujud patung dewa tersebut. Ia secara blak-blakan menyebut bahwa sosok itu memang benar rekan senegaranya.

Warga mengatakan, “Sama seperti polisi yang berpatroli, ia bertanggung jawab atas keamanan di tengah malam.”

Beralih ke tempat lain, di Kuil Futian yang terletak di Gunung Shitoushan, Miaoli, juga disemayamkan seorang perwira polisi asing. Pada papan arwah kayu tersebut terukir nama Hiroeda Otoemon. Ia adalah seorang perwira polisi Jepang yang menjabat sebagai komandan patroli pada masa Perang Dunia II. Kala itu, demi menyelamatkan nyawa lebih dari dua ribu tentara Jepang asal Taiwan, ia berani membangkang perintah atasan dan mengorbankan dirinya sendiri.

Ketua Kuil Futian Quanhua Hall Gunung Shitoushan, Huang Chin-yuan (黃錦源), mengatakan, “Oleh karena itu, salah satu mantan bawahannya yang berasal dari Taiwan, seorang pria tua bernama Liu Wei-tien (劉維添) yang menetap di Nanzhuang, sangat berterima kasih kepadanya dan datang untuk menempatkan papan arwah mendiang di sini.”

Berkat pengorbanan Hiroeda Otoemon yang rela pasang badan, para bawahan asal Taiwan tersebut berhasil selamat dari maut. Setelah perang usai, mereka secara bergelombang kembali ke Taiwan. Demi mengenang budi baiknya, mereka menempatkan papan arwahnya di dalam kuil sebagai wujud rasa terima kasih yang mendalam atas pengorbanan dan dedikasi sang komandan.

 

 

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解