Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Українська Panduan website

Ibu Suri Cixi

07/08/2026 Apa & Siapa
Ibu Suri Cixi (WIKIPEDIA)
Ibu Suri Cixi (WIKIPEDIA)

Ibu Suri Cixi (慈禧太后) adalah salah satu figur paling menarik, kuat, sekaligus kontroversial dalam sejarah kekaisaran Tiongkok. Selama hampir setengah abad, dari tahun 1861 hingga wafatnya pada 1908, perempuan dari klan Manchu Yehenara ini mengendalikan Dinasti Qing, yakni dinasti kekaisaran terakhir Tiongkok, dari balik tirai sutra.

Di tengah kepungan imperialisme Barat, pemberontakan domestik, dan tuntutan modernisasi, Cixi menavigasi badai politik dengan kecerdasan taktis yang luar biasa sekaligus tangan besi yang tak kenal ampun. Kisah hidupnya mencerminkan pergulatan sebuah kekaisaran kuno yang berusaha bertahan di ambang kehancuran dunia modern.

Lahir pada November 1835 dari keluarga birokrat Manchu kelas menengah, perempuan yang awalnya dikenal dengan nama gadis Lan-er (蘭兒) ini memasuki Kota Terlarang pada tahun 1852 setelah terpilih dalam seleksi selir untuk Kaisar Xianfeng (咸豐帝).

Di dalam hierarki kekaisaran yang sangat ketat, ia memulai posisinya dari tingkat yang cukup rendah sebagai selir kelas kelima. Namun, nasibnya berubah drastis berkat kecerdasan, pesona, dan keberuntungannya melahirkan satu-satunya putra mahkota Kaisar Xianfeng pada tahun 1856.

Anak laki-laki tersebut kelak naik takhta sebagai Kaisar Tongzhi (同治帝), dan keberhasilan ini langsung melambungkan posisi Cixi menjadi Selir Mulia, menjadikannya wanita paling berpengaruh kedua di istana setelah Permaisuri Zhen (貞皇后) yang kelak dikenal sebagai Ibu Suri Ci'an (慈安皇太后).

Ibu Suri Cixi (慈禧太后). Foto: Wikipedia

Ketika Kaisar Xianfeng wafat pada tahun 1861 akibat depresi dan kesehatan yang memburuk setelah kekalahan Tiongkok dalam Perang Candu Kedua, putra Cixi yang baru berusia lima tahun dinobatkan sebagai kaisar baru.

Sebelum wafat, sang kaisar telah menunjuk delapan wali amanat untuk menjalankan pemerintahan. Cixi yang menyadari posisinya terancam segera menyusun rencana kudeta yang sangat berani bersama Ibu Suri Ci'an dan Pangeran Gong (奕訢).

Peristiwa yang dikenal sebagai Kudeta Xinyou (辛酉政變) ini berhasil menyingkirkan kedelapan wali amanat tersebut atas tuduhan pengkhianatan. Peristiwa bersejarah ini menandai dimulainya era baru di mana Cixi dan Ci'an resmi menjadi wali penguasa, memerintah atas nama kaisar muda dari balik tirai sutra melalui praktik politik yang disebut Chui Lian Ting Zheng (垂簾聽政).

Meskipun secara resmi berbagi kekuasaan dengan Ibu Suri Ci'an yang berwatak lembut, Cixi adalah otak politik yang sebenarnya di dalam istana. Ia sangat menguasai seni faksionalisme, dengan lihai menyeimbangkan kekuatan antara pejabat Manchu yang konservatif dan pejabat etnis Han yang mulai naik daun seperti Zeng Guo-fan (曾國藩) dan Li Hong-zhang (李鴻章).

Di bawah kendali politiknya, Dinasti Qing berhasil meredam Pemberontakan Taiping yang telah menewaskan puluhan juta jiwa dan mengancam meruntuhkan kekaisaran. Periode ini juga melahirkan Gerakan Penguatan Diri, yang juga adalah upaya besar untuk mengadopsi teknologi militer, persenjataan, dan ilmu pengetahuan Barat tanpa kehilangan nilai-nilai Konfusianisme tradisional Tiongkok.

Kaisar Guangxu (光緒帝). Foto: Wikipedia

Ketika Kaisar Tongzhi wafat pada usia muda tanpa meninggalkan pewaris pada tahun 1875, Cixi kembali melakukan manuver politik yang melanggar tradisi suksesi kekaisaran demi mempertahankan kekuasaannya. Ia mengadopsi keponakannya yang masih berusia empat tahun, Zaitian (載湉), dan menobatkannya sebagai Kaisar Guangxu (光緒帝). Dengan cara ini, Cixi berhasil mengamankan posisinya sebagai Ibu Suri Wali untuk periode kedua, terus mengendalikan jalannya pemerintahan dari balik layar saat kaisar baru tumbuh dewasa.

Menjelang akhir abad ke-19, Tiongkok menghadapi tekanan eksternal yang kian agresif dari kekuatan Barat dan Jepang yang mulai bangkit. Kekalahan memalukan Tiongkok dalam Perang Sino-Jepang Pertama memicu krisis legitimasi yang mendalam bagi Dinasti Qing.

Kaisar Guangxu yang mulai dewasa ingin melepaskan diri dari bayang-bayang Cixi dan meluncurkan Reformasi Seratus Hari pada tahun 1898 untuk merombak sistem pendidikan, militer, dan birokrasi Tiongkok secara radikal. Merasa terancam oleh perubahan radikal tersebut, kaum konservatif meminta bantuan Cixi. Dengan dukungan militer dari Jenderal Yuan Shi-kai (袁世凱), Cixi melakukan kudeta faksi yang menjebloskan Kaisar Guangxu ke dalam tahanan rumah seumur hidup, mengeksekusi para reformator, dan mengambil alih kembali kendali penuh atas kekaisaran.

Salah satu kesalahan geopolitik terbesar Cixi terjadi saat meletusnya Pemberontakan Boxer pada tahun 1900, ini menjadi gerakan anti-asing dan anti-Kristen yang dipelopori oleh rakyat jelata. Alih-alih meredam gerakan tersebut, Cixi yang frustrasi dengan intervensi Barat justru mendukung para Boxer dan menyatakan perang terhadap kekuatan asing.

Ibu Suri Cixi (慈禧太后). Foto: Wikipedia

Keputusan ini berujung bencana besar ketika Aliansi Delapan Negara menyerbu Beijing, memaksa Cixi dan kaisar melarikan diri ke Xi'an dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Tiongkok kemudian dipaksa menandatangani Protokol Boxer yang sangat memalukan dan membayar ganti rugi perang yang sangat besar, yang semakin memiskinkan kas negara dan mempercepat keruntuhan dinasti.

Setelah kembali ke Beijing pada tahun 1902, Cixi akhirnya menyadari bahwa perubahan tidak bisa lagi dibendung jika kekaisaran ingin bertahan. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ia justru menerapkan reformasi yang sebelumnya ia tentang keras, termasuk menghapuskan ujian kekaisaran tradisional yang telah berusia ribuan tahun, melarang praktik pengikatan kaki perempuan, dan merencanakan transisi menuju monarki konstitusional.

Cixi wafat pada 15 November 1908, hanya satu hari setelah kematian misterius Kaisar Guangxu yang diyakini banyak sejarawan diracun atas perintahnya agar sang kaisar tidak bisa berkuasa kembali setelah ia tiada.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia menunjuk Puyi (溥儀) yang masih balita sebagai kaisar terakhir Tiongkok, dan hanya tiga tahun setelah kematian Cixi, Dinasti Qing runtuh melalui Revolusi Xinhai.

Selama beberapa dekade, sejarawan sering menggambarkan Cixi secara sepihak sebagai sosok monster yang haus kekuasaan, korup, kejam, dan menjadi penyebab utama runtuhnya kekaisaran Tiongkok. Namun, sejarawan modern mulai melihat Cixi dari sudut pandang yang lebih objektif dan bernuansa, mengakuinya sebagai politisi perempuan yang luar biasa tangguh yang berhasil mempertahankan keutuhan wilayah Tiongkok yang sangat luas di tengah gempuran kolonialisme global yang agresif.

Tanpa keluwesan taktis dan pragmatisme politik Cixi, Dinasti Qing mungkin telah runtuh jauh lebih awal, menjadikannya seorang pemimpin tradisional yang terjebak di persimpangan jalan antara dunia kuno yang sekarat dan dunia modern yang lahir dengan penuh gejolak.

Ikuti Program & Podcast
(foto: Canva)
Apa & Siapa
Penyiar: Yunus Hendry
Waktu Siar: Jumat

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解
00:00
00:00
0.5x 1x 1.5x 2x