"Pagi ini saya pergi ke supermarket. Saya melihat beberapa orang berdiri cukup lama di depan rak minyak goreng. Mereka membandingkan label satu per satu. Rupanya berita tentang benzopyrene membuat banyak orang mulai bertanya, minyak apa yang sebenarnya aman?"
Selamat datang di acara Jurnal Maria
歡迎收聽瑪麗亞週記Semoga semua hidup bahagia, sehat jiwa dan
raga.
Jurnal Maria Episode 1
Mengapa Minyak Goreng Bisa Mengandung Benzopyrene? Haruskah Kita Khawatir?
Halo para Jmers
"Setelah membaca berita tentang kandungan benzopyrene pada beberapa minyak goreng di Taiwan, saya pun membuka lemari dapur. Saya melihat ada sebotol minyak kedelai yang selama ini saya gunakan walau kadang-kadang saja. Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan menggantinya dengan minyak alpukat dan extra virgin olive oil. Tetapi beberapa hari kemudian saya bertanya kepada diri sendiri, apakah keputusan itu benar-benar berdasarkan ilmu, atau hanya karena rasa khawatir?"
Beberapa minggu terakhir, masyarakat Taiwan kembali ramai membicarakan keamanan minyak goreng. Berita mengenai ditemukannya zat bernama benzopyrene dalam beberapa produk minyak goreng atau minyak masakan membuat banyak orang bertanya-tanya.
Apakah minyak kedelai masih aman?
Apakah minyak refined atau minyak hasil pemurnian memang berbahaya?
Apakah kita harus berhenti menggunakan minyak goreng?
Hari ini kita akan membahasnya bersama-sama. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Saat mendengar nama benzopyrene, mungkin terdengar seperti bahan kimia yang sangat asing. Padahal sebenarnya zat ini sudah lama dikenal dalam dunia kesehatan.
Benzopyrene termasuk kelompok senyawa yang disebut PAH atau Polycyclic Aromatic Hydrocarbons. Senyawa ini terbentuk ketika bahan organik mengalami pemanasan yang sangat tinggi atau pembakaran yang tidak sempurna.
Artinya, benzopyrene bukan hanya dapat ditemukan pada minyak goreng.
Zat ini juga bisa muncul pada daging yang dibakar sampai gosong, ikan panggang yang terlalu hangus, sate yang terbakar, asap rokok, bahkan asap kendaraan bermotor.
Jadi keberadaan benzopyrene sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Yang menjadi perhatian adalah jumlahnya.
Lalu mengapa minyak kedelai atau minyak refined bisa mengandung benzopyrene?
Jawabannya ternyata bukan karena minyak kedelai itu sendiri.
Biji kedelai secara alami tidak mengandung benzopyrene.
Masalahnya bisa muncul selama proses produksi.
Pada pabrik minyak goreng modern, minyak mentah harus melalui berbagai tahap pemurnian agar warnanya lebih jernih, baunya lebih netral, dan daya simpannya lebih lama.
Proses ini biasanya melibatkan suhu tinggi.
Apabila suhu terlalu tinggi atau proses pengeringan bahan baku menggunakan pembakaran yang kurang sempurna, senyawa benzopyrene dapat terbentuk dan kemudian ikut masuk ke dalam minyak.
Karena itulah industri minyak goreng selalu memiliki standar yang sangat ketat mengenai suhu, penyaringan, dan pengujian laboratorium.
Apakah semua minyak refined berbahaya?
Jawabannya tentu tidak.
Justru sebagian besar minyak goreng yang kita beli di supermarket merupakan minyak refined.
Teknologi pemurnian sendiri bukan musuh.
Bahkan proses ini membantu menghilangkan kotoran, bau, warna yang tidak diinginkan, serta memperpanjang masa simpan minyak.
Yang penting adalah apakah proses produksinya dilakukan dengan benar dan apakah hasil akhirnya memenuhi standar keamanan pangan.
Banyak orang kemudian bertanya, apakah minyak cold pressed lebih aman?
Belum tentu.
Minyak cold pressed memang diproses pada suhu rendah sehingga beberapa vitamin dan aroma alaminya lebih terjaga.
Namun jenis minyak ini juga memiliki kelemahan, misalnya lebih mudah teroksidasi dan biasanya kurang cocok untuk menggoreng pada suhu yang sangat tinggi.
Artinya, setiap jenis minyak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Hal lain yang sering terlupakan adalah kebiasaan kita di dapur.
Minyak yang awalnya aman bisa menjadi kurang baik apabila digunakan berulang kali berkali-kali.
Semakin sering minyak dipanaskan, semakin banyak senyawa hasil oksidasi yang dapat terbentuk.
Karena itu, para ahli gizi selalu menyarankan untuk tidak menggunakan minyak goreng yang sama terlalu sering, apalagi jika warnanya sudah menghitam, berbau tengik, atau mengeluarkan banyak asap.
Dari pembahasan hari ini, kita belajar bahwa persoalan utamanya bukan sekadar minyak kedelai atau minyak refined.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana minyak tersebut diproduksi, bagaimana kualitas pengawasannya, dan bagaimana kita menggunakannya di rumah.
Tidak semua informasi yang beredar di media sosial menggambarkan keseluruhan fakta.
Sebagai konsumen, kita memang perlu berhati-hati, tetapi juga perlu memahami ilmu di balik sebuah berita agar tidak mudah panik.