Selamat datang kembali di dapur Maria dapur penuh cerita rasa.
Hari ini saya ingin mengajak Anda masuk ke sebuah toko roti di Taiwan.
Bayangkan...
Pagi hari.
Pintu toko baru saja dibuka.
Tercium aroma roti yang baru keluar dari oven.
Ada aroma mentega.
Susu.
Sedikit manis.
Dan aroma tepung yang baru keluar dari oven.
Kita melihat deretan roti di balik kaca.
Ada roti isi.
Ada roti susu.
Ada roti dengan keju.
Ada roti mentega. Ada roti dengan topping abon, khas roti Taiwan
Dan hampir semuanya memiliki satu kesamaan:
lembut.
Kalau Anda terbiasa dengan roti yang kulitnya keras dan renyah seperti baguette Prancis, mungkin Anda akan bertanya:
Mengapa roti Taiwan begitu lembut?
Mengapa orang Taiwan menyukai roti yang empuk, ringan, sedikit manis, dan mudah dikunyah?
Nah, hari ini kita akan menjelajah dunia roti Taiwan.
DAPUR MARIA
Dan berbicara tentang roti lembut, saya jadi teringat dapur saya sendiri.
Saya juga suka mencoba membuat roti.
Tetapi ada satu hal yang menarik.
Untuk membuat roti yang enak, kita sering membayangkan bahwa kita harus menguleni adonan dengan keras dan lama.
Ternyata tidak selalu begitu.
Ada metode yang justru sangat sederhana:
免揉麵包 — miǎn róu miànbāo.
Artinya kira-kira:
roti tanpa ulen.
Tepung.
Air.
Garam.
Sedikit ragi.
Dicampur.
Kemudian kita biarkan waktu bekerja.
Bahkan ada resep yang tidak membutuhkan minyak, gula, ataupun telur.
Adonan cukup difermentasikan, kemudian dipanggang.
Dan hasilnya?
Roti dengan kulit yang renyah dan bagian dalam yang lembut.
Ini akan menjadi cerita kita di episode berikutnya.
Karena menurut saya, roti tanpa ulen bukan hanya resep yang praktis.
Ia juga mengajarkan sesuatu:
kadang-kadang kita terlalu banyak menggunakan tenaga untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kita percayakan kepada waktu.