Jelajah Kuliner hari ini merupakan kelanjutan dari topik sebelumnya yaitu tentang roti Taiwan. Dan sampailah kita pada
Episode 2 — Roti Tanpa Ulen: Ketika Waktu Menggantikan Tenaga
Selamat datang kembali di Jelajah Kuliner, di dapur Maria, dapur penuh cerita rasa.
Di episode sebelumnya kita sudah berbicara tentang satu hal yang sangat menarik dari budaya roti Taiwan.
Orang Taiwan, seperti juga orang Jepang, sangat menyukai roti yang lembut, empuk, dan nyaman dimakan.
Hari ini kita tidak akan pergi ke toko roti.
Kita justru akan masuk ke dapur.
Karena saya ingin mengajak Anda membuat sesuatu yang mungkin terdengar agak aneh.
Roti tanpa ulen.
Dalam bahasa Mandarin disebut 免揉麵包 — miǎn róu miànbāo.
免揉 berarti "tidak perlu menguleni".
Nah, pertanyaannya:
Kalau tidak diuleni, bagaimana adonannya bisa menjadi roti?
Bukankah selama ini kita selalu mendengar bahwa adonan roti harus diremas, ditarik, dilipat, dan diuleni supaya menghasilkan roti yang lembut?
Ternyata...
tidak selalu.
Kadang-kadang, yang kita perlukan bukan tenaga.
Tetapi waktu.
RESEP YANG SANGAT SEDERHANA
Resep yang saya gunakan hari ini sebenarnya sangat sederhana.
Kita membutuhkan:
500 gram tepung terigu, bisa menggunakan tepung serbaguna atau tepung protein tinggi.
Kemudian:
400 gram air dingin.
10 gram garam.
Dan hanya sekitar:
1,5 gram ragi.
Kalau suka, kita juga bisa menambahkan sekitar 100 gram walnut panggang.
Dan perhatikan sesuatu.
Tidak ada gula.
Tidak ada telur.
Tidak ada minyak.
Bahan dasarnya benar-benar sederhana.
Tepung.
Air.
Garam.
Ragi.
Selesai.
Justru di sinilah saya merasa resep ini menarik.
Karena kita sering berpikir makanan yang enak harus mempunyai daftar bahan yang panjang.
Padahal kadang-kadang...
semakin sederhana bahannya, semakin kita bisa merasakan karakter bahan utamanya.