(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 1 Mei 2024, Negara Bagian Florida di Amerika Serikat mulai menerapkan salah satu larangan aborsi paling ketat di negara tersebut. Hal ini serta merta menjadikan isu aborsi sebagai fokus utama dalam pemilihan presiden AS 2024.
Presiden Joe Biden, yang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, melihat pertempuran ini sebagai potensi untuk menarik lebih banyak pemilih, sementara mantan Presiden Donald Trump, yang berupaya kembali ke Gedung Putih, berjanji untuk menyerahkan keputusan mengenai hak aborsi kepada masing-masing negara bagian guna menarik suara dari negara bagian swing state.
Larangan Aborsi di Florida: Isu yang Membelah Pendapat
Mulai 1 Mei 2024, Florida menerapkan larangan aborsi yang ketat, melarang aborsi setelah enam minggu kehamilan. Dengan berlakunya larangan ini, Florida tidak lagi menjadi tempat perlindungan bagi perempuan di wilayah selatan Amerika yang mencari aborsi.
Isu yang kontroversial tersebut juga menjadikan negara bagian yang dikuasai oleh Partai Republik ini sebagai salah satu swing state kunci. Meskipun Trump memenangkan Florida dalam pemilihan 2016 dan 2020, tetapi bagi Biden yang sedang berusaha untuk terpilih kembali, ini adalah kesempatan besar untuk melakukan serangan balik sebelum pemilu November.
Isu aborsi selalu menjadi topik yang memecah belah dalam masyarakat Amerika, dan pada pemilu tahun 2024, isu ini memiliki efek besar dalam memobilisasi pemilih.
Ini adalah pemilihan presiden pertama sejak Mahkamah Agung AS membatalkan perlindungan konstitusional terhadap hak aborsi. Hakim konservatif yang ditunjuk oleh Trump mendominasi Mahkamah Agung, dan pada tahun 2022 mereka mengeluarkan keputusan bersejarah, yang membatalkan putusan Roe v. Wade pada tahun 1973, yang sebelumnya menjamin hak aborsi secara konstitusional.
Keputusan ini memungkinkan setiap negara bagian untuk menetapkan peraturannya sendiri, menjadikan Amerika Serikat sebagai negara pertama yang mencabut hak aborsi yang telah diberikan.
Dengan larangan aborsi yang baru di Florida, serta keputusan Mahkamah Agung yang kontroversial, maka aborsi diperkirakan akan menjadi isu utama dalam pemilihan presiden 2024, yang tentunya dapat mempengaruhi bagaimana pemilih di seluruh negeri menentukan pilihan mereka.
Tubuh Milik Sendiri, Tapi Hak Aborsi Milik Politik
Sejak diberlakukannya undang-undang aborsi yang ketat, beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah mengambil langkah-langkah terkait hak reproduksi.
Para ahli percaya bahwa isu ini bisa menjadi sangat penting dalam pemilihan di negara bagian swing state, Arizona misalnya.
Mahkamah Agung Arizona pada bulan April mempertahankan undang-undang dari tahun 1864 yang hampir sepenuhnya melarang aborsi, di mana setiap dokter atau perawat yang melakukan aborsi dapat dijatuhi hukuman penjara hingga lima tahun.
Mengambil keuntungan dari reaksi balik terhadap larangan ini, kubu Biden segera meluncurkan iklan yang bersumpah untuk mempertahankan hak reproduksi wanita, dengan menyatakan bahwa "tubuh dan hak Anda adalah milik Anda, bukan milik pemerintah, apalagi Trump."
Pemilihan umum Amerika Serikat yang akan diadakan pada 5 November 2024, tidak hanya akan menentukan siapa yang akan menjadi penghuni Gedung Putih berikutnya, tetapi juga akan melibatkan pemilihan ulang seluruh 435 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan 33 kursi di Senat.
Ketua "Nevadans for Reproductive Freedom", Lindsey Harmon, menyatakan bahwa hak aborsi akan menjadi inti dari pemilu. Organisasi pendukung aborsi ini harus mengumpulkan cukup tanda tangan sebelum batas waktu 26 Juni 2024, agar isu hak aborsi dapat dimasukkan dalam konstitusi negara bagian dan diputuskan melalui pemungutan suara langsung pada bulan November.
Harmon mengharapkan pemilih untuk tampil dan membuat keputusan yang jelas, serta mencari kandidat yang mendukung isu ini.
Pertarungan Menuju Gedung Putih: Strategi Biden dan Trump
Pada tahun 2022, sejak Mahkamah Agung mengizinkan negara bagian untuk memutuskan sendiri apakah akan melarang aborsi, maka beberapa upaya pemerintah negara bagian untuk mengkriminalisasi aborsi telah ditolak oleh pemilih.
Pendukung hak aborsi telah memenangkan tujuh kali pemungutan suara langsung di hadapan pemilih.
Sebagai contoh, pada November tahun lalu, pemilih di Ohio menyetujui amandemen yang menuntut perlindungan hak aborsi dan keputusan reproduksi dalam konstitusi negara bagian mereka.
Sementara itu, pada tahun 2022, warga Kansas menjadi yang pertama menolak usulan legislatif negara bagian untuk memperketat pembatasan aborsi.
Para ahli percaya bahwa baik di tingkat negara bagian maupun federal, isu aborsi akan semakin memanas seiring mendekatnya pemilu, yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada pertarungan presiden antara Biden dan Trump.
Partai Demokrat dan tim kampanye Biden mengandalkan isu ini untuk membangkitkan semangat pemilih, sehingga mereka yang mungkin memilih untuk tinggal di rumah akan keluar dan memberikan suara mereka untuk presiden petahana yang membela hak aborsi.
Juru bicara Biden, Mia Ehrenberg, menyatakan bahwa sejak putusan Roe v. Wade dibatalkan oleh hakim yang didukung Trump, setiap kali pemilih memberikan suara, mereka menolak agenda "Make America Great Again" (MAGA) yang mencabut hak reproduksi, dan mereka akan melakukannya kembali pada November ini.
Selama masa kepresidenannya, Donald Trump telah mengatakan bahwa aborsi tidak lagi menjadi hak yang dilindungi oleh konstitusi federal.
Setelah Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang mengejutkan seluruh negara, Trump beberapa kali menyatakan bahwa ia bangga telah mencalonkan tiga hakim konservatif ke Mahkamah Agung yang memungkinkan mereka untuk membatalkan hak konstitusional ini dengan suara mayoritas.
Namun kini, Trump mengubah sikapnya terhadap aborsi. Pada bulan April, ia menyatakan dukungannya untuk menyerahkan isu sensitif ini kepada negara bagian untuk diputuskan, yang menurut para ahli adalah upaya untuk mendapatkan suara dari negara bagian swing state.
Menurut laporan dari media "Newsweek", Direktur Pusat Kajian Politik Amerika Serikat di University College London, Thomas Gift, berpendapat bahwa Donald Trump sebenarnya menyadari bahwa isu aborsi tidak menguntungkan bagi Partai Republik.
Oleh karena itu, Trump berusaha untuk meredam isu ini selama masa kampanye, dengan menghindari fokus yang terlalu kuat pada aborsi. Namun, meredam isu ini tidak berarti Trump mengabaikan basis pemilih yang anti-aborsi. Dia hanya tidak ingin aborsi menjadi pusat dari kampanye pemilihannya.
Dalam pemilu tahun 2020, Trump memenangkan Florida dengan selisih sekitar 3 poin persentase, sementara Biden menang tipis di Arizona dan Nevada.
Ketiga negara bagian ini termasuk di antara sekitar enam negara bagian yang dianggap paling kompetitif dan krusial.
Dengan mendekatnya pemilu pada November, isu aborsi kembali menjadi topik hangat dan dapat menjadi faktor penentu dalam hasil pemilihan.
Pertarungan untuk mempertahankan hak atas tubuh perempuan ini tidak hanya berhubungan dengan hak-hak perempuan, tetapi juga sarat dengan nuansa politik dan berpengaruh pada masa depan Amerika Serikat.