Jalan Belum Dapat Dilalui! Kawasan Wisata Aowanda dan Gunung Hehuan Sementara Ditutup
Ditjen Klimatologi Sentral Taiwan telah mencabut peringatan darat dan laut untuk Taifun Kong-rey. Namun, saat taifun melanda, kawasan pegunungan Gunung Hehuan mengalami angin kencang serta hujan deras, sehingga menyebabkan sebagian jalan di pegunungan longsor dan putus. Hingga kini, jalan tersebut belum sepenuhnya selesai diperbaiki. Selain itu, kemungkinan masih terjadi hujan lebat atau hujan deras.
Demi keselamatan pengunjung dan perbaikan fasilitas di kawasan Hehuan,Ditjen Konservasi Hutan Cabang Nantou mengumumkan bahwa Kawasan Wisata Nasional Hutan Gunung Hehuan akan dibuka kembali pada 7 November, sedangkan Kawasan Wisata Nasional Hutan Aowanda akan dibuka kembali pada 9 November.
Ditjen Konservasi Hutan Cabang Nantou mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau perkembangan cuaca. Selama periode taifun, sebaiknya menghindari masuk ke daerah pegunungan dan melakukan aktivitas di pegunungan demi menjaga keselamatan diri. Informasi mengenai jadwal buka dan tutup serta pengembalian uang pemesanan untuk Kawasan Wisata Hutan Gunung Hehuan dan Aowanda dapat diperoleh melalui situs Taiwan Forest Recreation (https://recreation.forest.gov.tw/).

(foto: Canva)
Jejak Sejarah Pabrik Kertas Era Jepang di Taman Budaya dan Kreatif Chung Hsing Yilan
Taman Budaya dan Kreatif Chung Hsing (Taman Budaya dan Kreatif Chung Hsing Yilan) yang merupakan destinasi wisata popular di Yilan, dulunya adalah pabrik kertas yang dikenal sebagai "Pabrik Kertas Chung Hsing." Tempat ini menjadi saksi bisu perkembangan dan kejayaan Yilan, yang beralih dari industri gula ke industri kertas, sehingga sangat layak untuk dikunjungi. Kisahnya bermula dari tahun 1933, ketika Perusaan Kertas Taiwan berhasil mengembangkan produksi kertas dari ampas tebu di Yilan. Di tahun berikutnya, mereka berhasil menciptakan teknik baru dengan menggabungkan belontong (ampas tebu) dan alang-alang, lalu mengolahnya menggunakan metode sulfit untuk menghasilkan kertas berkualitas tinggi yang diekspor ke Jepang. Berkat inovasi ini, reputasi industri pembuatan kertas Taiwan pun mendunia
Seiring dengan pendirian "Perusahaan Saham Gabungan Industri Taiwan" (台灣興業株式會社) pada tahun 1935, pembangunan "Pabrik Kertas Chung Hsing" juga diperluas. Mereka menggunakan alang-alang sebagai bahan baku dan memperoleh hak pengumpulan alang-alang di lahan milik pemerintah seluas lebih dari 10.000 hektar di timur laut. Bisnis pabrik berkembang pesat, dengan perkiraan pengiriman bahan ke Taipei atau Keelung mencapai ratusan ribu ton per tahun. Meskipun pada tahun berikutnya pasokan alang-alang menurun, pabrik ini memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan kertas dari kayu dan diizinkan menggunakan limbah kayu cemara merah dari hutan Taiping dan lainnya untuk memproduksi kertas. Hingga kini, di taman tersebut masih bisa ditemukan sisa-sisa rel kereta kuno yang menjadi bukti sejarah industri kertas.
Meskipun pada tahun 2001 Pabrik Kertas Chung Hsing tutup akibat fluktuasi harga kertas internasional, Pemerintah Kabupaten Yilan mengambil alih tempat tersebut pada tahun 2014. Bangunan pabrik tua ini akhirnya diubah menjadi taman kreatif dengan tujuan untuk menghidupkan kembali warisan budaya dan mendorong perkembangan kreatifitas. Kini, pengunjung dapat melihat bekas ruang mesin dan gudang yang telah disulap menjadi ruang pameran seni, restoran, serta area rekreasi keluarga, sejalan dengan komitmen mereka untuk terus mendorong industri kreatif demi masa depan yang gemilang.

(foto:https://families.lym.gov.tw/en/search/TSILanMuseum-000012/)
Klenteng Batu Kaohsiung, Wujud Balas Budi Pekerja Migran Thailand
Klenteng Cixuan Shengtian yang terletak di Distrik Tianliao, Kaohsiung, terkenal akan tampilan luarnya yang dihiasi dengan batu, karang, dan kerang, sehingga sering disebut "Klenteng Batu" (Stone Temple). Klenteng ini menjadi salah satu tempat populer untuk berfoto dan selalu dipadati pengunjung. Namun, di balik keindahan arsitekturnya, terdapat kisah menarik tentang sejarah pembangunannya yang patut untuk kita telusuri!
Mari kita kembali ke tahun 1994, di mana terdapat sekelompok orang berpakaian compang-camping berkeliaran di sekitar Klenteng Cixuan Shengtian. Merasa ada yang aneh, penjaga klenteng menghampiri mereka. Setelah bertanya, ternyata mereka adalah pekerja migran asal Thailand yang awalnya dipekerjakan untuk membangun Jalur Tianliao dari Jalan Tol Nasional Nomor 3. Namun, mereka mengalami nasib sial ketika perusahaan konstruksi tempat mereka bekerja bangkrut, sehingga mereka kehilangan tempat tinggal, bahkan tidak punya uang untuk makan. Tergerak oleh rasa iba, penjaga klenteng tersebut memutuskan untuk membantu para pekerja migran ini dengan memberi mereka tempat tinggal sementara di klenteng.
Pekerja migran yang merasa sangat tersentuh oleh bantuan dari penjaga klenteng tersebut kemudian secara sukarela menawarkan diri untuk membantu pembangunan bagian belakang klenteng. Mereka mengumpulkan banyak batu, karang, dan kerang, dan dengan hati-hati menyusunnya menjadi dekorasi luar kuil, sehingga terciptalah Klenteng Batu yang unik dan megah. Jika Anda berkunjung ke Tianliao, Kaohsiung, jangan lupa untuk mengunjungi Klenteng Batu dan saksikan sendiri kemegahannya yang menyerupai istana bawah laut!
(foto: KKDay)
Museum Seni CMP Taichung yang Baru akan Dibuka Bulan Depan!
Museum Seni CMP Taichung baru yang dirancang oleh Kengo Kuma akan resmi dibuka pada 13 Desember. Museum yang dibangun selama enam tahun ini terletak di dekat "PARK2 Caowu Square" Taichung, dengan atap lengkung seluas 1.355 meter persegi yang menawarkan ruang seni yang menyatu dengan alam.
Desain Museum Seni CMP Taichung menggabungkan konsep arsitektur Jepang dengan teknik konstruksi Taiwan. Ini adalah museum pertama yang dirancang oleh Kengo Kuma di Taiwan. Tempat ini melengkapi kawasan "PARK2 Caowu Square" dan melambangkan dimulainya gaya hidup baru di Taichung. Museum ini pertama kali dibuka pada tahun 2012 dengan konsep "Museum Putih," menggunakan bangunan bekas SD yang tidak terpakai.
Dengan memadukan ruang pameran luar, Museum Seni CMP memecah batas pameran seni yang sebelumnya terbatas pada galeri eksklusif agar lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Pada tahun 2019, mereka meluncurkan "Museum Konstruksi," mengubah lokasi konstruksi sementara menjadi museum.
Kali ini, tim Kengo Kuma mengusung konsep "kembali ke alam" dengan desain baru, sehingga museum menyatu secara alami dengan lingkungan sekitar. Terinspirasi dari pola tanaman arabesque, bangunan ini didekorasi dengan lengkungan halus yang melilit bangunan dengan struktur baja fleksibel.
Atap seluas 1.355 meter persegi dirancang sebagai atap hijau dengan sistem sirkulasi air ramah lingkungan, serta dihiasi dengan 1.282 kisi-kisi kayu yang memperkuat kesan hangat pada bangunan. Dengan jendela besar yang memperluas pandangan, pemandangan dalam dan luar bangunan menyatu dengan harmonis. Atap hijau Museum Seni CMP ini juga akan menjadi oasis kota, tempat pengunjung bisa singgah dan beristirahat.

(foto:隈研吾建築都市設計事務所)