Polisi Antar PMI yang Tersesat saat Beli Nasi untuk Nenek
Dua minggu lalu, seorang PMI bernama Aman, yang bekerja menjaga nenek di Taiwan, pergi ke pasar naik sepeda untuk membelikan neneknya makan. Namun tak disangka, ia tersesat hingga akhirnya ia panik dan masuk ke kantor polisi untuk meminta bantuan karena khawatir neneknya sendirian di rumah. Setelah mendengar ceritanya, petugas polisi menenangkan Aman dan mengantarnya pulang dengan mobil patroli, menjadikan insiden tersesat ini sebagai kisah hangat di negeri rantau.
Sekitar pukul 1 siang hari itu, Aman, seorang PMI berusia sekitar 30 tahun, masuk ke Kantor Polisi Shuinan, dengan mata berkaca-kaca dan penuh emosi. Ia berbicara dengan terbata-bata kepada petugas piket dalam bahasa Mandarin, bahwa siang itu ia keluar dari rumah majikan dengan naik sepeda untuk membeli bekal makan siang, namun tersesat saat pulang. Ia tidak membawa identitas diri atau kontak majikan, dan yang paling membuatnya gelisah adalah sang nenek masih menunggunya pulang di rumah.
Aman menceritakan bahwa ini adalah kali pertamanya bekerja di Distrik Beitun, Taichung. Ia mendengar dari teman senegara bahwa bento dari Pasar Shuinan enak, sehingga ia sengaja ingin membelinya untuk dibagikan bersama nenek. Namun karena tidak mengenal daerah itu, ia tidak bisa menemukan jalan pulang, hingga akhirnya ia menangis sambil minta bantuan polisi.
Kedua petugas polisi lebih dulu menenangkan emosinya, lalu dengan sabar menanyakan rute perjalanan dan landmark (tanda tempat) di sekitar. Petugas juga membuka peta dan tampilan jalanan di ponselnya untuk membantunya mengenali tempat-tempat yang ia lalui. Saat peta menunjukkan "Taman Dunhua", mata Aman langsung berbinar dan dengan antusias berkata, “Saya tahu tempat ini! Rumah nenek ada di dekat sini!”
Meski Aman bersikeras ingin pulang sendiri dengan sepeda, polisi tetap mengantar Aman dan sepedanya dengan mobil patroli hingga sampai di rumah majikannya dengan selamat. Majikan yang melihatnya pulang dengan selamat merasa sangat terharu dan berulang kali mengucapkan terima kasih kepada polisi.
Kepala Kantor Polisi Cabang Kelima, Liu Chi-hsien, menyampaikan bahwa dalam menangani kasus yang melibatkan pekerja migran, seringkali muncul kesulitan dalam identifikasi karena masalah komunikasi bahasa, bahkan bisa terjadi kesalahpahaman. Ia mengimbau agar para majikan memastikan pekerjanya membawa identitas atau informasi kontak yang dapat dikenali, agar polisi dapat segera memberikan bantuan saat diperlukan.

(foto: Kepolisian Taichung)
FAKTA UNIK
Ikatan Tersembunyi Teresa Teng dengan Indonesia: dari Identitas hingga Inspirasi Lagu
Hari ini kita akan berbicara tentang Teresa Teng, seorang superstar internasional yang populer di tahun 70-an dan 80-an. Dia selalu dikenang sebagai penyanyi dengan senyuman manis dan suara indah. Selain itu, dia juga dikenal sebagai "kekasih abadi tentara" karena sering mengunjungi Kinmen untuk memberi semangat kepada tentara.
Baru-baru ini, sebuah video yang beredar di internet menunjukkan Teresa Teng sedang menyanyi di depan tentara, mencoba menggoda seorang letnan muda yang tampan. Teresa bertanya apakah tentara tersebut sudah menikah. Tak disangka, letnan tersebut menjawab "sudah menikah," yang membuat sang diva pun kesal dan berbalik sambil menyanyikan "Di hatimu tidak ada aku," begitu kira-kira.
Namun, tahukah Anda? Image patriotik Teresa Teng ini sebenarnya tidak ada pada awalnya. Bahkan di tahun 1970-an ketika dia mulai terkenal, dia tidak dianggap nasionalis. Pada 1979, terjadi masalah paspor di mana Teresa Teng menggunakan paspor Indonesia untuk memasuki Jepang, dan itu membuatnya dicekal pihak bea cukai. Kejadian ini mengejutkan banyak orang, dengan media memberitakan bahwa dia ditangkap di Tokyo karena diduga menggunakan paspor palsu. Judul-judul yang beredar menyebutkan "Teresa Teng ditangkap di Tokyo karena paspor Indonesia palsu."
Sebenarnya, paspor yang dia gunakan adalah Paspor Orang Asing yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, bukan palsu. Paspor tersebut ditebusnya dengan harga 20 ribu dolar Amerika Serikat.
Lalu, mengapa dia menggunakan paspor Indonesia? Jawabannya sederhana, yaitu karena pada tahun 1972, Jepang memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Sebagai akibatnya, Teresa Teng yang sudah sangat terkenal, harus menggunakan paspor Indonesia untuk memasuki Jepang, karena proses untuk mendapatkan visa menggunakan paspor Taiwan membutuhkan waktu yang cukup lama, dan dia tidak bisa menunggu terlalu lama. Namun, saat dia menggunakan paspor Indonesia, pihak bea cukai Jepang tidak menerima paspor tersebut karena Teresa Teng sangat terkenal di Jepang. Isu ini cepat menyebar ke Taiwan dan berkembang menjadi sebuah kontroversi besar, yang menyebabkan Teresa Teng harus bersembunyi sementara di Amerika Serikat karena dianggap menghianati Taiwan.

(foto: nayamagazine.org)
Tentu saja, Jepang bukan satu-satunya negara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Pada tahun 1971, setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) secara resmi bergabung dengan PBB, Taiwan dikeluarkan dari PBB. Negara yang tidak diakui oleh PBB tersebut perlahan-lahan kehilangan negara-negara yang sebelumnya menjalin hubungan diplomatik. Oleh karena itu, seluruh dekade 70-an menjadi masa yang menyedihkan dengan pemutusan hubungan diplomatik secara beruntun. Belum lagi pada tahun 1979, yang dikenal sebagai tahun "peristiwa paspor," bahkan Amerika Serikat juga memutuskan hubungan dengan Taiwan.
Setelah insiden paspor tersebut, Teresa Teng tidak berani kembali ke Taiwan dan memutuskan untuk tinggal sementara di Amerika Serikat untuk melanjutkan studi dan karier musiknya. Di sana, dia merekam lagu-lagu seperti "Tian Mi Mi" dan "Xiao Cheng Gu Shi," yang kelak menjadi lagu-lagu legendaris. Teresa Teng juga mengadakan konser di berbagai kota di Amerika Serikat, dan konser-konser ini membuatnya semakin terkenal di kalangan diaspora Tionghoa di sana. Bahkan, ia tampil di Lincoln Center for the Performing Arts dan The Music Center LA yang sangat bergengsi. Meskipun dia sempat mengalami masalah paspor, ini membuka jalan bagi puncak karier Teresa Teng di Amerika.
Tampaknya, insiden paspor ini tidak membatasi kebebasan Teresa Teng, justru malah membuka babak baru yang gemilang dalam kariernya. Ngomong-ngomong soal ini, di tengah Perang Dingin, ketegangan lintas Selat, dan kesulitan diplomatik, sebenarnya pergi ke luar negeri bukanlah hal yang mudah. Tapi suara Teresa Teng justru bisa melenggang bebas di Asia dan Amerika Serikat. Bagaimana itu bisa terjadi?
Di sini, mari kita bahas secara singkat bagaimana Teresa Teng memulai kariernya. Pada tahun 1960-an, saat Teresa Teng masih duduk di bangku SMP, dia pernah mengikuti lomba menyanyi dan membawakan lagu bergaya opera Huangmei, yang kebetulan menarik perhatian pemilik sebuah tempat hiburan malam. Pemilik itu pun mengundangnya untuk menjadi penyanyi tetap di restoran. Dari situ, namanya mulai dikenal. Kemudian ia merilis album dan secara resmi memulai debutnya, tampil di acara musik radio dan televisi, bahkan menyanyikan lagu tema untuk drama seri pertama Taiwan, Jin Jin. Penampilan itu membuat nama Teresa Teng menjadi terkenal di seluruh Taiwan.
Memasuki tahun 1970-an, Teresa Teng mulai merambah ke Hong Kong. Di sana ia belajar bahasa Kanton, tampil dalam konser amal, merilis album, bahkan membintangi film semi-otobiografi I Want to Sing. Setelah itu, ia melanjutkan ekspansinya ke Asia Tenggara. Pada tahun 1971, ia menandatangani kontrak dengan perusahaan rekaman internasional Life Records yang berbasis di Malaysia, yang membuat lagunya tersebar ke komunitas Tionghoa di berbagai negara Asia Tenggara. Kemudian, pada tahun 1977, ia merekam album dalam bahasa Indonesia dan Melayu bersama perusahaan rekaman di Indonesia. Saat itu, Teresa Teng sudah pernah menyanyikan lagu asli Tian Mi Mi, yang sebenarnya adalah lagu rakyat Indonesia Dayung Sampan. Lagu itu kemudian diadaptasi menjadi versi Mandarin yang kita kenal sekarang setelah ia menandatangani kontrak dengan Polygram Records Jepang.
Kesuksesan Teresa Teng di seluruh Asia terutama disebabkan karena ia berhasil mewarisi dan melanjutkan warisan musik Haipai (gaya pelabuhan)—tradisi musik pop yang dikembangkan oleh para seniman di Shanghai dan Hong Kong dari era sebelum hingga sesudah perang. Misalnya, lagu seperti When Will You Return? pertama kali direkam oleh Zhou Xuan, salah satu dari tujuh diva besar Shanghai tahun 1940-an. Oleh karena itu, lagu-lagu Teresa Teng terasa akrab di telinga para pendengar Tionghoa. Ditambah lagi, Teresa Teng memiliki kemampuan luar biasa dalam mempelajari bahasa. Ia bisa menyanyikan lagu dalam berbagai bahasa dan bahkan menggabungkan elemen lagu rakyat lokal, yang membuat karyanya mudah diterima oleh komunitas Tionghoa di seluruh dunia dan cepat menjadi populer.
Setelah membahas semua ini, bagaimana Teresa Teng bisa berubah dari penyanyi lintas negara menjadi ikon patriotik seperti yang kita kenal sekarang? Meskipun insiden paspor telah mereda, setelah mengalami tuduhan tidak setia, tentu saja jika ingin kembali ke Taiwan, ia harus menunjukkan sikapnya. Pada tahun 1980, Chiang Ching-kuo mengirim utusan untuk meminta Teresa Teng kembali dari Amerika Serikat ke Taiwan untuk menghibur tentara. Teresa Teng langsung setuju. Saat tiba di Bandara Chiang Kai-shek (sekarang Bandara Taoyuan), ia menyatakan kepada publik bahwa ia adalah “anak yang telah lama merantau dari kampung halaman.” Saat itu, Direktur Utama TTV, Liu Kan-ru, memimpin lebih dari 30 artis—termasuk Teresa Teng—membentuk rombongan hiburan militer ke garis depan di Kinmen untuk memberikan pertunjukan dan menyemangati para tentara.

(foto: screenshot 薛進友臉書)
Konon, saat Teresa Teng menyanyikan lagu penutup Meihua (Bunga Plum), suasana di tempat itu begitu menggugah hingga membuat para tentara terharu. Tapi itu belum semuanya. Setelah kembali dari Kinmen, Teresa Teng langsung menggelar konser di Gedung Peringatan Sun Yat-sen. Saat pembawa acara Tian Wenzhong menanyakan perasaannya kembali ke Taiwan setelah lama tidak pulang, Teresa Teng menjawab: “Saya sangat senang. Walaupun selama satu tahun lebih saya berada di luar negeri, hati saya tetap berada di dalam negeri.” Setelah konser, ia menyumbangkan seluruh pendapatan konser—sekitar 1,5 juta dolar Taiwan (jumlah yang besar pada masa itu)—untuk Dana Patriotik Penguatan Nasional.
Tahun berikutnya, TTV memproduksi program Jun Zai Qianshao (Engkau di Garis Depan), dan Teresa Teng menyanyikan lagu tema pembukanya. Dalam acara tersebut, ia mengenakan seragam militer dan menyanyi bersama para tentara. Dari sinilah citra “kekasih hati para prajurit” mulai terbentuk.
Kurang lebih pada waktu yang sama, lagu-lagu Teresa Teng mulai diam-diam populer di Tiongkok melalui pasar kaset bajakan. Bahkan saat itu beredar sebuah ungkapan: “Siang hari dengar Lao Deng, malam hari dengar Xiao Deng.” Lao Deng mengacu pada Deng Xiaoping, dan Xiao Deng adalah Teresa Teng. Kabar pun menyebar bahwa pemerintah Tiongkok ingin merekrut Teresa Teng. Orang-orang Taiwan pun mulai panik—apa Teresa Teng akan berpihak ke sana? Kepala Dewan Informasi saat itu, James Soong (Song Chuyu), bahkan buru-buru menemui Teresa Teng untuk memohon agar ia jangan sampai “dibajak” oleh Tiongkok.
Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa citra patriotik Teresa Teng sebenarnya baru dibentuk setelah insiden paspor tersebut. Tindakan pemerintah saat itu bisa dibilang mirip seperti “pacar posesif”: takut artis besar ini berpaling hati, mereka lebih dulu menuduhnya tidak patriotik. Tapi begitu dia kembali, mereka buru-buru memujanya dengan gelar “artis patriotik”.
Jadi, apakah Teresa Teng benar-benar patriotik? Tentu kita tidak bisa menyimpulkan secara pasti. Secara objektif, sebelum era reformasi politik (sebelum darurat militer dicabut), Teresa Teng berkali-kali menyatakan ke luar negeri bahwa dirinya adalah orang Tiongkok. Namun setelah era tersebut, ia semakin berani menyatakan sikapnya. Ia bahkan ikut turun ke jalan dalam aksi protes di Hong Kong untuk memperingati peristiwa Tiananmen, tampil tanpa riasan, dengan ikat kepala 民族萬歲 (Hidup Demokrasi) dan ikut bersama masyarakat… menunjukkan dengan jelas bahwa yang ia impikan adalah Tiongkok yang bebas.
Jika kita lihat lagu-lagunya di berbagai masa, terlihat bahwa Teresa membawakan banyak jenis musik—dari huangmei diao, lagu rakyat Indonesia, enka Jepang, jazz Barat—semuanya sangat internasional. Tapi juga termasuk lagu-lagu patriotik dari era darurat militer. Ini mencerminkan posisi Taiwan di era Perang Dingin—mengidamkan kebebasan tapi hidup dalam keterbatasan.
Pada 8 Mei 1995, Teresa Teng meninggal karena serangan asma, mengakhiri kehidupan legendarisnya. Saat karirnya berada dipuncak, ia meninggal di usia 42 tahun saat berlibur di Chiang Mai, Thailand. Pemakamannya dilakukan bak seorang pahlawan di Taiwan. Bendera Taiwan menutupi peti matinya dan presiden Taiwan yang menjabat saat itu, Lee Teng-hui, turut menghadiri pemakamannya. Jasadnya dikebumikan di Kompleks Makam Yun Garden yang berada di kaki gunung Chin Pao San, Jinshan, New Taipei City. Dahulu, Ketua Jinbaoshan, Cao Ri-zhang, menjual sebidang tanah seluas 50 ping (sekitar 165 meter persegi) kepada keluarga Teresa Teng dengan harga hanya satu dolar Taiwan.
Meski Teresa Teng sudah berpulang selama 30 tahun lamanya, kisah dan lagu-lagunya masih terus dikenang hingga kini. Misalnya dalam film “Comrades: Almost a Love Story” yang dibintangi Leon Lai dan Maggie Cheung, atau drama Jepang “Teresa Ten monogatari: Watashi no ie wa yama no mukou”, dan baru-baru ini serial buatan Tiongkok “Fly Me to the Moon” yang dibintangi Michelle Chen sebagai Teresa.