Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Jalan-jalan 130525 - 5 Permata Wisata Tersembunyi di Taiwan Menurut National Geographic

Daerah wisata kebun teh di Pinglin (foto: New Taipei travel)
Daerah wisata kebun teh di Pinglin (foto: New Taipei travel)

Bunga Agapanthus Mekar di Neishuangsii, Taipei! Mulai 17 Mei Bisa Masuk Gratis, Ada Pasar Tumbuhan & Konser Musik

Musim mekar bunga Agapanthus—dikenal juga sebagai lily of the nile—telah tiba. Neishuangxi Nature Centre, sebuah tempat hijau tersembunyi yang bahkan masih asing bagi banyak warga Taipei, hanya dibuka setiap bulan Mei. Dinas Pertanahan mengumumkan bahwa tahun ini kawasan ini akan dibuka gratis untuk umum mulai 17 Mei hingga 15 Juni. Pada hari pembukaan (17 Mei), akan diadakan berbagai acara gratis seperti perburuan harta karun bertema bunga, konser musik, kegiatan melukis alam bebas, dan pasar tanaman hijau.

Bunga Agapanthus di Neishuangxi Nature Centre mulai bermekaran diam-diam. Bunga berwarna ungu yang berbentuk lonceng ini tampak seperti kembang api yang menerangi alam hijau, menciptakan suasana romantis. Neishuangxi Nature Centre memang hanya dibuka setiap bulan Mei agar masyarakat bisa menikmati lautan bunga yang bermekaran di tengah cahaya musim semi.

Meski kini kuota untuk kegiatan melukis dan kerajinan tangan sudah penuh, pengunjung tetap bisa menjelajah Taman Tanaman Obat, mengenal keanekaragaman ekologi kawasan, atau jalan-jalan pasar sambil ditemani musik.

Selama masa pembukaan, akan ada serangkaian kegiatan bertema tanaman. Semua kelas ini hanya bisa diikuti dengan pendaftaran online dan kuotanya terbatas berdasarkan urutan pendaftaran. Jika tidak kebagian, pengunjung tetap bisa ikut acara di lokasi seperti “Pengalaman Membuat Paket Tanaman Herbal”.

Pusat Alam Neishuangsii terletak di Distrik Shilin, Taipei, dan memiliki kekayaan topografi serta sumber daya ekologi yang melimpah. Bersama dengan jalur pendakian Gunung Daluntou, rumah batu tradisional, dan tempat berkemah Bishan di sekitarnya, kawasan ini dikenal dengan julukan “Xitou-nya Taipei”. Setelah menjelajahi taman, tidak ada salahnya melanjutkan perjalanan ke jalur pendakian untuk menikmati alam, atau berkunjung ke area berkemah Bishan. Dikelilingi kehijauan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Anda bisa melupakan segala kepenatan dalam sekejap.

Info Lokasi: Pusat Alam Neishuangsii

•    Alamat: No. 27, Lane 150, Section 3, Zhishan Road, Distrik Shilin, Taipei

•    Jam buka: Pukul 09.00–16.00 (tutup setiap hari Rabu)

Cara ke sana:

Dari Stasiun MRT Jiantan:

o      Naik bus minibus M1 dan turun di halte Neishuangxi Nature Center (langsung sampai).

o      Atau naik minibus S18 dan turun di Jembatan Bixi, lalu berjalan kaki sekitar 30 menit ke lokasi.

Bunga agapanthus (foto: candiru (28061028@N07) via flickr cc)

5 Permata Tersembunyi di Alam Liar Taiwan Menurut National Geographic

Bagi banyak wisatawan, perjalanan ke Taiwan dimulai dan berakhir di Taipei—terkenal karena pasar malamnya yang padat dan bubble tea manis yang menggoda. Namun, di balik hiruk-pikuk skuter dan gedung pencakar langit ibu kota, tersembunyi sebuah pulau yang tidak hanya dikenal lewat makanannya, tetapi juga keanekaragaman hayatinya yang menakjubkan.

Lebih dari setengah wilayah Taiwan diselimuti hutan, dengan ekosistem yang membentang dari hutan hujan subtropis hingga hutan cedar di pegunungan tinggi. Dalam beberapa jam berkendara, Anda bisa berpindah dari pesisir yang disinari matahari ke puncak gunung yang berkabut. Lima destinasi ini menampilkan sisi liar Taiwan—dari desa adat di tepi laut hingga hutan pegunungan terpencil—di mana tradisi dan alam berpadu erat.

1. Distrik Pinglin

Hanya sekitar satu jam berkendara ke arah tenggara dari Taipei, Pinglin adalah kota pegunungan yang terbentuk dari budaya teh. Terletak di perbukitan hijau New Taipei City, wilayah ini berada di hulu Waduk Feitsui—sumber utama air minum bagi lebih dari enam juta orang di kawasan metropolitan Taipei.

Untuk melindungi daerah aliran sungai, pemerintah menerapkan peraturan lingkungan ketat sejak tahun 1980-an, membatasi pembangunan skala besar dan aktivitas industri. Meski sempat menuai keluhan dari sebagian warga dan pengembang, kebijakan ini berhasil menjaga salah satu lanskap pedesaan paling murni di Taiwan.

“Pinglin sangat kaya akan pohon pakis,” kata Phaedra Fang, peneliti di Museum Nasional Taiwan sekaligus pemandu wisata paruh waktu. “Mereka adalah kelompok tumbuhan purba—sudah ada sejak zaman dinosaurus. Dan jumlahnya di sini sangat banyak.”

Sawah bertingkat menghiasi perbukitan, dipenuhi semak teh yang digunakan untuk membuat baozhong, jenis oolong yang sedikit teroksidasi dan terkenal karena rasa manis seperti melon. Sepanjang tahun, wilayah ini ramai oleh suara burung seperti barbet Taiwan, elang alap jambul, dan walet. “Walet suka membuat sarang di bawah atap rumah penduduk,” tambah Fang.

Kunjungi Museum Teh Pinglin untuk melihat secara menyeluruh bagaimana teh ditanam, diproses, dan diseduh. Tak jauh dari sana, Jalan Tua Pinglin dipenuhi rumah teh yang menyajikan hasil panen teh terbaru—sering kali diseduh langsung oleh para petaninya.

Wisata kebun teh di Pinglin (foto: New Taipei Travel)

2. Pulau Xiaoliuqiu

Tepat di lepas pantai barat daya Taiwan, Xiaoliuqiu adalah pulau karang yang dikelilingi penyu hijau dan kolam pasang yang berkilau. Ini adalah salah satu lokasi selam paling mudah diakses di Taiwan—kurang dari lima jam dari Taipei, termasuk feri 25 menit dari kota pelabuhan Donggang.

Taiwan berada di batas geografis unik: bagian utaranya bersuhu subtropis, sementara bagian selatannya sudah masuk iklim tropis. “Taichung adalah garis pembatasnya,” kata Dennis Wong, co-owner Fun Divers Taiwan. Toko selam ini telah memandu penyelam sejak 2013. Di selatan Taichung, air mulai menghangat dan kehidupan laut menjadi lebih beragam. “Semakin ke selatan, Anda akan menemukan lebih banyak karang, lebih banyak warna, dan lebih banyak spesies,” ujar Wong.

Berkat letaknya di Selat Taiwan di pesisir barat, Xiaoliuqiu terlindung dari arus kuat yang biasa menghantam lokasi selatan lainnya. Jarak pandang di dalam air bisa mencapai 12 hingga 20 meter, dan perairannya penuh kehidupan: pari tutul biru, barracuda muda, belut moray, hingga ikan singa asli Taiwan.

Dengan skuter, menjelajahi daratan berbatu vulkanik di pulau ini jadi mudah. Namun bagi penyelam, spot terbaik bisa diakses dengan perahu, seperti di Broken Shipwreck, tempat Anda bisa menjelajahi bangkai kapal kargo kecil dan terumbu karang di sekitarnya. Musim terbaik berlangsung dari Mei hingga September, saat laut tenang dan jernih.

Pulau Xiaoliuqiu (foto: 聽海龜)

3. Dulan, Kabupaten Taitung

Dengan salah satu ombak terbaik di Taiwan, Dulan menarik para peselancar sepanjang tahun ke pantai pasir hitam dan ombak Samudra Pasifik yang liar. Namun, desa pesisir timur ini bukan sekadar tempat berselancar—Dulan juga rumah bagi suku Amis, kelompok adat terbesar di Taiwan yang memiliki hubungan mendalam dengan laut.

Saat air laut surut, para perempuan Amis masih turun ke laut dangkal untuk memungut kerang secara tradisional, sebagaimana nenek moyang mereka dulu. Di pedalaman, jalur-jalur setapak membelah ladang talas liar. Penduduk mengumpulkan sayur dari pinggir hutan lalu memasaknya.

Kini, Dulan juga menjadi magnet bagi seniman. Seniman, musisi, dan ekspatriat tertarik pada keindahan alam dan jiwa desa ini. Kunjungi Pabrik Gula Dulan yang telah diubah menjadi pusat seni dengan konser akhir pekan, studio pengrajin, dan galeri pop-up. Atau cicipi makan siang di Taitung Tea House, restoran fish & chips yang menyajikan mahi-mahi tangkapan lokal.

Sesekali, desa ini juga menjadi tuan rumah Festival Musik Amis, perayaan akar budaya yang mempertemukan seniman dari seluruh Taiwan dan luar negeri. Pertunjukan digelar di padang terbuka dengan laut di satu sisi dan lereng hijau di sisi lainnya.

Dulan di Kabupaten Taitung (foto: Taitung Travel)

4. Pingtung

Kabupaten paling selatan di Taiwan, Pingtung sering disebut sebagai lumbung pangan pulau ini. Dataran yang disinari matahari sepanjang tahun menghasilkan banyak buah lokal seperti jambu air, leci, nanas, mangga, dan pisang. Namun, pegunungannya menyimpan kisah yang tak kalah kaya.

Wilayah ini memiliki keanekaragaman hayati dan sejarah panjang, termasuk jalur kuno yang digunakan oleh masyarakat adat dan penjelajah Barat untuk mencapai desa-desa batu terpencil. Flora tropis seperti merica liar dan kembang sepatu tumbuh subur di sini—dan jika beruntung, Anda bisa melihat babi hutan, kera ekor panjang, atau elang ular bido yang langka.

“Macan dahan Formosa mungkin sudah punah, tetapi rohnya masih terasa di hutan-hutan ini,” kata Fang. Dulu dianggap hewan suci oleh masyarakat adat dan penjaga pegunungan, macan ini belum terlihat secara resmi sejak 1980-an. Namun, cerita-cerita tentang bayangan yang berlari di bawah semak atau melompat dari tebing masih sering terdengar. Entah mitos atau ingatan, kehadirannya tetap membekas.

Keterikatan terhadap tanah dan ingatan itu masih hidup di tempat seperti Desa Baru Laiyi, pemukiman ulang suku Paiwan, salah satu kelompok adat pegunungan selatan Taiwan. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka kembali ke pertanian tradisional—menanam millet, quinoa merah, talas, dan shell ginger dengan metode ramah lingkungan. Toko sayuran mereka berfungsi sebagai pasar tani sekaligus pusat budaya—menjual hasil panen musiman dan menyelenggarakan lokakarya tentang pengetahuan pertanian yang nyaris punah. Ini adalah bagian dari gerakan lebih luas di Pingtung untuk menjaga kelangsungan budaya lewat makanan, cerita, dan pelestarian tanah.

Daerah Pingtung (foto: Taiwan Tourism)

5. Alishan, Kabupaten Chiayi

Terkenal akan pemandangan matahari terbit dan jalur kereta hutan berusia seabad, Alishan adalah kawasan pegunungan tinggi di Chiayi, sekitar dua jam berkendara dari stasiun kereta cepat terdekat. Dipenuhi jalur pendakian, tempat ini menawarkan hutan cemara purba, punggungan berkabut, dan bunga bakung liar di musim semi. “Alishan adalah kunci untuk memahami sejarah kehutanan dan transportasi Taiwan,” kata Fang.

Kereta Hutan Alishan berjalur sempit—dibangun pada masa penjajahan Jepang untuk mengangkut kayu cemara dari pegunungan—masih beroperasi melintasi tanjakan berliku dan jalur spiral, menghubungkan jalur pendakian, kebun teh, dan desa berkabut. Beberapa kereta yang telah dipugar memiliki interior kayu cemara, memberikan kesan naik mesin waktu. Setelah bertahun-tahun rusak akibat badai, bagian penting dari jalur ini baru-baru ini dibuka kembali sebagai bagian dari upaya Taiwan melestarikan kereta bersejarahnya.

Di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, punggungan (ridge) gunung yang menghadap ke timur menjadikan Alishan salah satu tempat terbaik di Taiwan untuk menyaksikan matahari terbit. Di Zhushan, titik pandang populer, pengunjung berkumpul pagi-pagi untuk menyaksikan matahari menyembul di atas lautan awan, menerangi Pegunungan Tengah dengan cahaya emas. Jika cuaca cerah, Yushan—gunung tertinggi Taiwan—juga dapat terlihat.

Di Alishan, petani menanam oolong pegunungan tinggi Taiwan di atas ketinggian 1.000 meter, di mana udara yang sejuk dan berkabut memperlambat pertumbuhan daun dan memperkuat aroma. Kontras tajam antara siang hangat dan malam dingin memperkaya rasa floral teh, sementara tanah mineral menambah kedalaman dan kejernihan rasa.

Wisata di Alishan (foto: Alishan National Park)

 

 

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解