(Taiwan, ROC) --- Pada awal Juni kemarin, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia Sergei Shoigu. Kim Jong Un dalam pembicaraan berjanji akan mendukung tanpa syarat posisi Rusia dalam masalah Ukraina dan urusan internasional lainnya.
Para akademisi menganalisis, sejak Korea Utara bergabung dalam perang Rusia-Ukraina, hubungan keduanya berkembang pesat, bahkan telah melampaui hubungan tradisional Tiongkok dengan Korea Utara.
Hal ini tidak hanya menyebabkan menurunnya pengaruh Tiongkok terhadap Korea Utara, tetapi juga melemahkan pengaruh Tiongkok di Semenanjung Korea, yang telah membuat Tiongkok merasa sangat khawatir.
Kim Jong Un Menyambut Teman Lama, Hubungan Rusia Korea Utara Kembali Menghangat
Pada tanggal 4 Juni 2025, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia Sergei Shoigu. Ini adalah kunjungan kedua Sergei Shoigu ke Korea Utara sejak Maret tahun ini, menunjukkan eratnya hubungan antara Rusia dengan Korea Utara.
Selain Kim Jong Un berjanji untuk mendukung tanpa syarat Rusia dalam persoalan Perang Ukraina dan urusan internasional lainnya. Kedua pihak juga membahas penguatan kemitraan strategis komprehensif dan pendalaman kerja sama bilateral di berbagai bidang.
Diserang Drone Ukraina, Rusia Mencari Bantuan Korea Utara
Profesor Sun Guo-xiang (孫國祥) dari Institut Studi Asia Pasifik Universitas Nanhua berpendapat bahwa kunjungan Sergei Shoigu ini seharusnya terkait dengan rencana Rusia untuk membalas serangan drone Ukraina dalam waktu dekat, yang juga sepenuhnya menunjukkan eratnya hubungan Rusia dengan Korea Utara.
Profesor Sun Guo-xiang mengatakan, "Tentu saja faktanya ini tampaknya juga sedikit terkait dengan serangan drone yang dilakukan Ukraina baru-baru ini yang menyebabkan kerusakan pada pesawat pembom Rusia, karena kita bisa lihat dalam percakapan antara Vladimir Putin dengan Donald Trump, tampaknya disebutkan bahwa Vladimir Putin akan melakukan serangan balasan atas kejadian ini, jadi kunjungan Sergei Shoigu ke Korea Utara tampaknya memiliki hubungan dengan hal ini, yaitu tampaknya Rusia meminta beberapa bentuk kerja sama dari Korea Utara yang akan membantu serangan balasan Rusia ini."
Rusia-Korea Utara Menandatangani Pakta Aliansi, Hubungan Meningkat Drastis
Faktanya, ketika Presiden Rusia Putin mengunjungi Korea Utara pada Juni 2024, kedua negara menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif, yang mencakup perjanjian pertahanan bersama, menetapkan bahwa jika salah satu pihak mengalami agresi bersenjata, maka pihak lain harus segera memberikan bantuan militer.
Pada musim gugur tahun yang sama, Korea Utara mengirim 10.000 hingga 12.000 tentara untuk berpartisipasi dalam perang Rusia Ukraina, dan menyediakan sejumlah besar senjata konvensional kepada Rusia, secara terbuka mendukung Rusia.
Ini juga merupakan pertama kalinya Korea Utara terlibat dalam konflik bersenjata berskala besar sejak Perang Korea tahun 1950. Sejak saat itu, hubungan Rusia dengan Korea Utara meningkat secara drastis.
Mendekati Tingkat Persahabatan Melawan AS dan Membantu Korea, Hubungan Rusia dengan Korea Utara Melampaui Beijing
Lin Chih-hao (林志豪), Asisten Peneliti di Institut Keamanan Nasional Academia Sinica, bahkan berpendapat bahwa perkembangan hubungan Rusia dengan Korea Utara saat ini pada dasarnya mendekati tingkat hubungan Tiongkok dengan Korea Utara, bahkan telah melampaui tingkat hubungan yang dibangun antara pemerintah Korea Utara saat ini dengan Xi Jin-ping (習近平).
Lin Chih-hao mengatakan, "Seperti yang Anda sebutkan tentang kunjungan Sergei Shoigu, bahkan penandatanganan perjanjian aliansi strategis persahabatan tahun lalu, dapat dilihat bahwa perkembangan antara Korea Utara dan Rusia sangat cepat, mungkin melampaui perjanjian ekonomi masa lalu antara Tiongkok dan Korea Utara, atau beberapa bantuan pembangunan fasilitas fisik yang substansial, semuanya lebih cepat dari masa lalu."
Hubungan Rusia-Korea Utara Dikhawatirkan Membuat Beijing Kehilangan Pengaruhnya
Lin Chih-hao lebih lanjut menganalisis, karena Beijing selama ini selalu memprioritaskan penangangan isu Korea Selatan sebelum menangani masalah Korea Utara, dan selalu menjaga jarak aman dengan Pyongyang.
Korea Utara jelas ingin menggunakan peningkatan hubungan mereka dengan Rusia untuk mengimbangi hubungan dengan Tiongkok, menghindari ketergantungan berlebihan pada Tiongkok.
Namun karena hal ini, Tiongkok mulai merasa tidak nyaman, khawatir kehilangan pengaruhnya terhadap Korea Utara dan hak suara di Semenanjung Korea.
Lin Chih-hao mengatakan, "Dari posisi Tiongkok, mereka tidak ingin Korea Utara menembus pembatasan ekonomi yang substansial, bahkan sanksi militer untuk meningkatkan kekuatan militer tradisionalnya, ekonomi domestik, dan kekuatan nasional secara keseluruhan, karena ini akan merugikan kontrol Tiongkok atas situasi di seluruh Semenanjung Korea."