Taiwan Bersiap Menyambut 9 Juta Pengunjung untuk Tahun 2025
(Taiwan, ROC) -- Taiwan tengah berkomitmen pada target 10 juta wisatawan mancanegara untuk tahun 2025, di mana jumlah wisatawan mancanegara untuk saat ini diperkirakan dapat lebih dari 9 juta, demikian pernyataan dari Direktur Jenderal Administrasi Pariwisata, Chen Yu-hsiu (陳玉秀) beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data imigrasi Kabinet, Taiwan mencatat lebih dari 4,19 juta wisatawan mancanegara pada paruh pertama tahun ini, meningkat 10% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Hampir 2,88 juta orang memasuki negara tersebut dari Januari hingga April, naik 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Chen mencatat bahwa pariwisata internasional biasanya mendapatkan momentum pada paruh kedua tahun ini. Untuk memanfaatkan tren ini, pemerintah telah meluncurkan serangkaian kampanye promosi, termasuk tur kereta api bertema baru yang bertujuan untuk menarik penggemar kereta api dari Taiwan dan Jepang.
Ia menekankan keragaman pasar pariwisata masuk Taiwan, dengan mencatat bahwa pengunjung dari Asia Timur Laut, Asia Tenggara dan Selatan, Tiongkok, Hong Kong, dan Makau, serta pasar negara berkembang di Eropa dan Amerika Utara, masing-masing menyumbang sekitar 30% dari total kedatangan.
Lima pasar sumber teratas pada paruh pertama tahun 2025 adalah Jepang, Hong Kong dan Makau, Korea Selatan, AS, dan Filipina.
Chen mengaitkan pertumbuhan di pasar AS dan Filipina dengan peningkatan kapasitas penerbangan dan penyederhanaan prosedur visa. Kedatangan dari Jepang dan Korea Selatan juga mengalami peningkatan yang stabil, didorong oleh dukungan selebritas dan hubungan bilateral yang lebih kuat.
Sebaliknya, pengunjung dari Hong Kong dan Makau sedikit menurun, kemungkinan karena daya tarik Jepang di tengah pelemahan yen dan kekhawatiran gempa bumi regional yang memengaruhi preferensi perjalanan.
Mengenai perjalanan lintas selat, Chen mengatakan puluhan ribu wisatawan Tiongkok telah mengunjungi Taiwan tahun ini melalui negara ketiga, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pertukaran profesional antara kedua belah pihak juga terus berlanjut, tambahnya.
Taiwan awalnya menetapkan target 12 juta pengunjung internasional untuk tahun 2024, tetapi kemudian merevisinya menjadi 10 juta. Angka akhir mencapai 7,86 juta.

Bandara Taoyuan (foto: Bandara Taoyuan)
“Proyek Rumah Kertas” di Taipei Ini Menghadirkan Bangunan Hunian Seluas 126 Meter Persegi
Majalah “My Housing” telah merangkum berbagai proyek pra-penjualan unit-unit hunian terkecl yang diluncurkan di wilayah Taiwan utara pada paruh pertama tahun ini. Proyek terkecil adalah "SOHO Zhufu" (SOHO筑富) di Distrik Datong, Kota Taipei, dengan luas hanya 38,1 ping (sekitar 126 m2). Proyek ini direncanakan akan dibangun setinggi 11 lantai dengan luas tiap hunian antara 11-12 ping (sekitar 33-40 m2).
Chen Bing-chen (陳炳辰) Direktur Departemen Riset Usaha dan juru bicara majalah “My Housing” menunjukkan, bahwa proyek-proyek di lahan kecil memiliki pilihan pengembangan yang terbatas dan cenderung menjadi rumah kecil. Jika proyek-proyek tersebut berlokasi di Kota Taipei, yang biaya konstruksinya lebih tinggi, setiap pemilik rumah perlu berbagi fasilitas umum yang lebih besar. Rasio fasilitas umum yang tinggi akan menyulitkan penerimaan, luas bangunan dalam ruangan akan menyusut, dan daya huni akan sangat berkurang, sehingga sebagian besar pembeli akan menjadi pembeli tipe investasi.
Namun, karena keterbatasan lahan kosong dalam skala besar di ibu kota, proyek pembangunan di lahan kecil menjadi hal yang tak terhindarkan. Di Kota Taipei, pembangunan kembali lewat skema “bangunan tua dan riskan” (bahasa Mandarin: 危老) juga sering dilakukan, sehingga mendukung berkembangnya proyek di lahan kecil. Bila proyek tersebut berada di pusat kota, memiliki potensi pendapatan dari sewa, berada di kawasan sekolah unggulan, dan mudah dijual kembali dengan keuntungan di masa depan, serta memiliki ukuran unit yang kecil, dimana hal ini berarti harga lebih terjangkau, maka meskipun kondisi pasar properti sedang lesu, kalangan investor tetap tertarik karena beban finansialnya tidak berat, dan permintaan beli pun tetap ada.
Sebagai contoh, luas bangunan "SOHO Zhufu" di Distrik Datong hanya 11 atau 12 ping, tetapi dekat MRT dan kawasan bisnis, serta memiliki keunggulan berada di jalan utama. Meskipun harga jual per meter persegi lebih dari satu juta dan harga totalnya lebih dari NT$10 juta, semuanya menjadi aspek positif untuk debut pemasarannya
Di Jalan Ningxia, Distrik Datong ada juga sebuah proyek dengan luas kurang dari 30 ping (100m2), dengan jumlah hunian yang sedikit. Proyek ini berada di sekitar MRT, kawasan bisnis, dan biaya total yang rendah, sehingga pengembang yakin dan bersedia untuk mengerjakan proyek tersebut.
Proyek-proyek baru lainnya dengan luas kurang dari 40 ping di Distrik Ren'ai, Kota Keelung, Kota Luodong, Kabupaten Yilan, dan Kota Zhubei, Kabupaten Hsinchu, juga telah muncul tahun ini. Untuk lahan mikro di luar Kota Taipei dan Kota Taipei Baru, harga lahan relatif rendah, dan biaya konstruksi proyek skala kecil tidak akan terlalu tinggi. Sebagian besar berupa apartemen yang dibangun sendiri, dan perencanaan fasilitas umum cukup fleksibel, sehingga ruang hunian menjadi menarik. Dengan kondisi perkotaan, kawasan industri, dan kondisi regional lain di sekitarnya, serta kunci harga total rumah yang rendah, pengembang berani mencoba meluncurkan proyek terkait.
Chen menganalisis, bahwa proyek lahan skala kecil, yang awalnya didorong oleh tren investasi seiring booming pasar perumahan, masih memiliki volume saat ini. Di tengah tingginya harga rumah dan tingginya biaya konstruksi, jenis produk ini relatif berkinerja baik. Produk-produk yang sebelumnya dianggap istimewa justru membentuk tren yang normal. Namun, ia juga mengingatkan bahwa proyek lahan rumah kertas dengan harga unit yang terlalu tinggi dan rasio biaya-kinerja yang rendah belum tentu laku, dan pengembangnya seringkali bukan perusahaan papan atas, sehingga risikonya harus dipertimbangkan.

"Rumah Kertas SOHO Zhufu" di Taipei (foto: My Housing)
Kembang Api Valentine di Dadaocheng 30 Agustus 2025
Menyambut Valentine Tionghoa atau Qixi Valentine, pada 30 Agustus pukul 15:00 akan digelar konser “Cheng Chang” dan bazar di Lapangan Yongle Dadaocheng.
Tidak hanya itu, puncak acara dengan tema “Cinta Datang pada Waktu yang Tepat”, menampilkan kembang api besar berdurasi 480 detik, selebar sekitar 800 meter, serta suguhan kembang api “Seribu Roda” yang beberapa tahun terakhir menjadi sorotan di Taiwan dan Jepang.

Kembang api Dadaocheng (foto: Taipei Travel)
Lagu "Tikus yang Mencintai Beras" : Kisah Cinta Abadi di Balik Lagu Hits Klasik Tahun 2000-an
Di tahun 2000-an ada sebuah lagu pop Mandarin yang sangat membekas dalam ingatan generasi muda saat itu, sebab liriknya sederhana, tulus, dan melodinya pun ringan. Judulnya adalah “Tikus yang Mencintai Beras” (老鼠愛大米).
“Tikus yang Mencintai Beras” merupakan sebuah lagu pop yang pertama kali dinyanyikan oleh Wang Qi-wen (王啟文) dan semakin dikenal karena Xiang-xiang (香香). Lagu ini sangat populer pada tahun 2004, khususnya ketika internet mulai merajalela dan semakin mendunia. Dengan melodi yang sederhana dan mudah diingat serta lirik yang lugas, lagu ini menggambarkan pandangan cinta yang murni dan teguh, dan dengan cepat memenangkan hati banyak pendengar.
Lagu ini mendapat sambutan yang tinggi di internet dan media tradisional pada masanya, dan menjadi kenangan bersama satu generasi. Lagu "Tikus yang mencintai beras" menggambarkan cinta yang sederhana, layaknya tikus mencintai nasi, murni dan apa adanya, tanpa banyak alasan. Lagu ini dapat beresonansi luas karena menyentuh kerinduan mendalam orang-orang akan cinta yang murni.
Inspirasi untuk " Tikus yang Mencintai Beras " berasal dari kisah cinta, yang menceritakan tentang seorang pemuda yang diam-diam menjaga kekasihnya dan rela memberikan segalanya untuknya.
Lagu ini ditulis dan digubah oleh Yang Chen-gang (楊臣剛) yang memasukkan sebuah kisah unik ke dalam lagunya. Ia menggunakan seekor tikus yang mencintai beras untuk mengekspresikan cinta tanpa pamrih sang anak laki-laki kepada sang gadis. Proses penciptaan lagu ini bukanlah proses yang instan. Sang pencipta mengalami banyak revisi dan penyesuaian sebelum akhirnya menyelesaikan karya yang menyentuh hati banyak orang ini. Dalam konteks sosial saat itu, ungkapan cinta orang-orang relatif implisit, tetapi " Tikus yang Mencintai Beras " mendobrak belenggu tradisional ini dengan cara yang santai dan jenaka, menjadikan ungkapan cinta lebih bebas dan lugas.

Cover album dari lagu "Tikus yang Mencintai Beras" (foto: Yahoo)
Analisis Lirik: Ungkapan Cinta yang Tulus
Lirik "Tikus yang Mencintai Beras" sangat sederhana, namun sarat dengan emosi yang tulus. Salah satu baitnya tertulis, "aku mendengar suaramu, dan ada perasaan istimewa yang membuatku terus-menerus memikirkanmu, dan aku tak berani melupakanmu lagi."
Lirik-lirik ini mengungkapkan hasrat dan kerinduan akan cinta dalam bahasa yang sederhana. Gambaran tikus dan beras atau nasi dalam lirik menunjukkan kesederhanaan dan keteguhan cinta ini. Ucapan berulang "Aku mencintaimu, mencintaimu, seperti tikus mencintai beras/nasi" dalam lagu ini membekas kuat dan abadi di hati para pendengar.
Lirik lagu ini juga mencerminkan pandangan positif tentang cinta. Tidak ada kata-kata indah atau hiasan berlebihan dalam liriknya, melainkan sikap tulus untuk mengungkapkan komitmen dan dedikasi terhadap cinta.
"Seberapa pun badai yang ada, aku akan tetap menemanimu", lirik ini menunjukkan tanggung jawab dan komitmen cinta ini. Dalam cinta, tidak hanya dibutuhkan kemanisan dan romansa, tetapi juga dukungan dan perlindungan bersama.
Aransemen lagunya juga relatif sederhana, didominasi musik elektronik, dengan beberapa instrumen lembut, menciptakan suasana santai dan menyenangkan. Gaya musik ini melengkapi emosi tulus dalam lirik, membuat lagu ini semakin indah.