Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Negosiasi Tarif AS-Taiwan: Tarif Sementara 20%, Picu Kekhawatiran Industri Ekspor  

07/08/2025 Kedai RTISI
Negosiasi Tarif AS-Taiwan: Tarif Sementara 20%, Picu Kekhawatiran Industri Ekspor   圖: RtiSI
Negosiasi Tarif AS-Taiwan: Tarif Sementara 20%, Picu Kekhawatiran Industri Ekspor   圖: RtiSI

(Taiwan, ROC) --- Negosiasi tarif antara Taiwan dengan Amerika Serikat tengah menjadi sorotan. Tarif sementara ditetapkan sebesar 20%. Industri-industri yang berorientasi ekspor utama ke AS kini diliputi kekhawatiran. Misalnya, ikan lemadang, 70% dari total produksinya diekspor ke AS. Anggrek juga, yang mana 40% diekspor ke AS dengan nilai mencapai miliaran NT$. Selain itu, sepertiga teh Taiwan diekspor ke AS.

Meskipun tarif 20% ini bersifat sementara, tetapi industri tetap cemas, khawatir tarif ini lebih tinggi dari Jepang dan Korea Selatan yang 15%, sehingga berpotensi kehilangan daya saing harga.

Taiwan dikenal sebagai Kerajaan Anggrek berkat keberagaman jenis anggreknya dan pengalaman pemuliaan yang panjang, menghasilkan banyak varietas berkualitas tinggi dan kompetitif di pasar. Namun, keputusan sementara AS untuk menerapkan tarif 20% pada produk Taiwan membuat industri khawatir keunggulan mereka akan hilang.

Sekjen Asosiasi Anggrek Taiwan (TOGA), Tseng Chun-pi (曾俊弼), mengatakan, "(Tarif) 20% ditambah nilai tukar sebelumnya, totalnya sekitar 25%, akan mengikis seluruh margin kotor. Ini merupakan tantangan besar bagi ekspor anggrek (ke AS)."

Ekspor anggrek Taiwan ke berbagai negara, terutama AS dan Jepang, telah tumbuh sekitar 20 kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Tahun lalu, ekspor mencapai lebih dari 60 negara dengan total nilai NT$6,1 miliar. AS adalah pasar ekspor utama, dengan nilai ekspor di atas NT$1,5 miliar selama enam tahun terakhir, bahkan melebihi NT$2 miliar dalam dua tahun. Namun, dampak tarif ini tidak hanya pada anggrek.

Topografi Taiwan yang beragam, ditambah curah hujan yang melimpah, menciptakan lingkungan pertumbuhan teh yang unik, menjadikan Taiwan bak tanah permata hijau. Produksi tahunan teh Taiwan mencapai 12.000 metrik ton, dan sepertiganya diekspor ke AS. Meskipun tarif 20% ini sementara, tetapi jauh lebih tinggi dari Jepang dan Korea Selatan.

Ketua Asosiasi Pengembangan Industri Teh AI Kota Taoyuan, Chiu Kuo-hsiung (邱國雄), mengatakan, "Baru dua hari yang lalu kami mengadakan pertemuan industri Jepang-Taiwan. Termasuk matcha Jepang, yang saat ini sangat sukses di pasar AS. Karena depresiasi nilai tukar Yen, produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar."

Ikan segar dan gemuk ini adalah ikan lemadang, yang sedang musim panen di Yilan. Sekitar 70% dari hasil tangkapan tahunan diekspor ke AS. Saat negosiasi tarif AS-Taiwan, para nelayan sudah sangat khawatir akan menjadi yang pertama terkena dampaknya.

Sekjen Asosiasi Hak-hak Nelayan Kabupaten Yilan, Li Yuan-chang (李源漳), mengatakan, "(Tidak hanya) pajaknya tinggi, tentu saja, pedagang ikan tidak mungkin membeli dengan harga bagus. Tentu saja, harga ikan akan turun, dan itu akan berdampak."

Lemadang adalah spesies ikan ekspor yang penting, dan tidak mudah untuk beralih ke pasar lain. Dengan kenaikan tarif, mereka mungkin menghadapi persaingan harga yang ketat. Ditjen Perikanan sedang menyusun skema subsidi, ditambah subsidi sebagian bunga pinjaman dari lembaga keuangan. Semua pihak berharap 20% bukanlah tarif akhir.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解