(Taiwan, ROC) --- Dunia semakin menua, dan jumlah pensiunan yang bergantung pada dana pensiun terus bertambah, menciptakan ketidakseimbangan dengan populasi pekerja. Untuk mengatasi ini, banyak negara Eropa mempertimbangkan untuk menunda usia pensiun.
Namun, ada tantangan. Meskipun lansia ingin terus bekerja, tetapi diskriminasi usia seringkali menghalangi mereka untuk tetap berada di dunia kerja atau mencari pekerjaan baru. Situasi ini diperkirakan bisa lebih parah terjadi di Taiwan.
Tren penundaan usia pensiun secara global berakar pada penuaan populasi dan tekanan finansial pada sistem jaminan sosial. Protes besar-besaran di Prancis pada tahun 2023, setelah pemerintah menaikkan usia pensiun menjadi 64 tahun, mencerminkan sensitivitas isu ini.
Andrew Biggs dari American Enterprise Institute (AEI) menyoroti bahwa rata-rata harapan hidup modern telah meningkat sekitar 13 tahun sejak 1960, memaksa lebih dari separuh negara anggota OECD untuk menaikkan usia pensiun.
Generasi Z juga merasa pesimis tentang prospek pensiun mereka, khawatir dana jaminan sosial tidak mencukupi dan menyadari perlunya menabung sendiri untuk masa depan. Tren global ini juga berdampak signifikan pada Taiwan, di mana penuaan populasi dan tingkat kelahiran yang rendah menyebabkan ketidakseseimbangan struktur tenaga kerja, menempatkan sistem pensiun di bawah tekanan besar.
Olivia S. Mitchell dari Wharton School, University of Pennsylvania, menyatakan bahwa data AS menunjukkan hampir semua orang bergantung pada tunjangan jaminan sosial, sehingga menjaga solvabilitas sistem ini sangat penting. Namun, populasi pekerja yang menopang dana tersebut semakin tidak seimbang.
Sebuah survei mengungkapkan bahwa 64% responden di AS lebih khawatir kekurangan dana setelah pensiun daripada kematian, dan 25% lainnya percaya mereka mungkin tidak akan pernah bisa pensiun.
Teresa Ghilarducci dari The New School for Social Research menunjukkan bahwa Generasi Z terpaksa belajar mandiri, dengan sebagian besar tabungan mereka berada di akun pension, yakni sebesar 401 ribu.Ini berbeda dari generasi sebelumnya.
Selama beberapa dekade, sistem pensiun AS bergantung pada prinsip tiga kaki, yang meliputi jaminan sosial, pensiun perusahaan, dan tabungan pribadi. Namun, kini bagi sebagian besar warga AS, pensiun yang disediakan oleh pemberi kerja hampir tidak ada, dan jaminan sosial menghadapi krisis kebangkrutan.
Andrew Biggs menjelaskan bahwa jaminan sosial menggunakan sistem pay-as-you-go, di mana pajak yang dibayarkan pekerja saat ini langsung digunakan untuk membayar tunjangan pensiunan saat ini. Ini membuat jaminan sosial rentan terhadap perubahan demografi.
Misalnya, pada tahun 1960-an di AS, setiap pensiunan didukung oleh sekitar 5 hingga 6 pekerja, kini berkurang menjadi 3 orang, dan di masa depan mungkin hanya 2 orang.
Tingkat kelahiran Taiwan yang sangat rendah juga menimbulkan kekhawatiran akan ketidakseimbangan finansial sistem pensiun di masa depan.
Jin Li-ming (晉麗明), CEO Taiwan Human Capital Company, menyatakan bahwa penuaan populasi dan tingkat kelahiran yang rendah mendorong tren penundaan pensiun. Namun, survei menunjukkan bahwa sebagian besar warga Taiwan baru mulai mempersiapkan dana pensiun setelah usia 40 tahun, dan menghadapi kesulitan menabung karena biaya hidup yang tinggi.
Penundaan pensiun juga menghadapi tantangan praktis, yakni sulit mencari pekerjaan meskipun tidak ingin pensiun.
Jin Li-ming menekankan bahwa di dunia kerja, seseorang mungkin sudah mencapai langit-langit karier di usia 40-an, dan sulit mencari pekerjaan baru karena diskriminasi usia pada resume.
Di Taiwan, industri yang bersedia menerima pekerja paruh baya dan lansia umumnya mempekerjakan mereka yang berusia antara 45 hingga 55 tahun, sedangkan mereka yang berusia di atas 55 tahun, sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Teresa Ghilarducci mengusulkan Gray New Deal, yang mengakui bahwa proporsi lansia akan lebih tinggi dari sebelumnya, dan ini adalah hal yang baik. Salah satu nilai dari Gray New Deal adalah setiap orang dewasa yang ingin bekerja harus memiliki pekerjaan.
Bagaimana membuat perusahaan menyesuaikan nilai-nilai mereka dan menghindari diskriminasi usia adalah tantangan bersama di Asia dan global. Jin Li-ming juga menunjukkan bahwa kaum muda saat ini juga kesulitan mencari pekerjaan, dengan AI yang secara aktif menggantikan tenaga manusia, tren penggantian oleh AI sangat jelas bagi lulusan baru atau mereka yang berusia di bawah 30 tahun.
Saat ini, usia pensiun wajib di Taiwan adalah 65 tahun. Sementara itu, Denmark telah mempertimbangkan untuk menaikkan usia pensiun wajib menjadi 70 tahun pada tahun 2040, dan Jerman juga akan menyusul.
Sebagai salah satu wilayah dengan tingkat penuaan tercepat di Asia, jika Taiwan tidak segera mengusulkan kerangka pensiun yang fleksibel, maka pasti akan terjadi kekurangan tenaga kerja, dan keuangan jaminan pensiun akan menghadapi tekanan yang lebih besar.