(Taiwan, ROC) --- Film dokumenter Tuned In bukan sekadar tontonan biasa. Karya kedua dari sutradara berdarah Indonesia-Taiwan, Martin Rustandi, setelah filmnya The Road Less Traveled (逆者), ini telah memukau penonton di berbagai festival film etnis dunia dan acara bergengsi lainnya.
Namun, yang membuat Tuned In begitu istimewa adalah pendekatannya yang berbeda dari narasi imigran yang seringkali digambarkan dengan nuansa kelam. Film ini justru memancarkan kecerahan, didukung oleh karakter utamanya yang luar biasa.
Bintang utamanya adalah Zane, seorang bocah Taiwan keturunan Indonesia berusia 10 tahun, yang pesonanya dan energi lugunya mampu memikat hati penonton.
Berbeda dengan stereotip, film ini tidak hanya memilih tema yang cerah, tetapi juga menghadirkan Zane sebagai sosok yang penuh semangat, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Perjalanan Zane Menemukan Identitas
Kisah Tuned In berpusat pada Zane, yang sejak lahir tumbuh di Taiwan dan fasih berbahasa Mandarin. Suatu hari, ibunya, Ela, memintanya untuk melakukan wawancara radio pertamanya dalam bahasa Indonesia. Momen ini tak hanya memicu kegugupan Zane, tetapi juga membangkitkan rasa penasarannya yang mendalam. Ia mulai mempertanyakan perbedaan antara akar keturunannya dan budaya Taiwan yang telah membentuknya.
Dorongan inilah yang kemudian menginspirasinya untuk secara aktif menggali identitas dirinya, sebuah penjelajahan yang menjadi jantung dari film Tuned In.
Melalui lensa pertumbuhan Zane yang jujur dan tak terduga, film ini mengajak penonton menyelami kehidupan para imigran baru di Taiwan, serta menyoroti nuansa perbedaan budaya antara dua negara yang terjalin dalam dirinya.
Salah satu momen yang paling berkesan dan mengundang tawa adalah ketika Zane dengan polosnya berujar, "Di Taiwan, pergi ke toilet umum tidak perlu bayar!"
Komentar sederhana ini tidak hanya menunjukkan perspektif unik seorang anak, tetapi juga menjadi cerminan kecil dari perbedaan budaya yang ia alami, sekaligus menghangatkan suasana film.
Lagu: 屋頂 - 吳宗憲