Menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30), sejumlah organisasi lingkungan di Taiwan meluncurkan aksi pawai bertajuk “March for Climate — Building a Resilient Taiwan”, yang akan diadakan pada 1 November. Mereka mengusung tiga pilar ketangguhan dengan 12 tuntutan utama, guna memperkuat kemampuan Taiwan dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim serta meningkatkan kapasitas pemulihan pascabencana.
COP30 akan berlangsung selama dua minggu mulai 10 November di wilayah Hutan Hujan Amazon, Brasil. Sepuluh organisasi lingkungan Taiwan, termasuk Taiwan Climate Action Network, Green Citizens’ Action Alliance, Mom Loves Taiwan, dan Greenpeace, akan bersama-sama menggelar pawai besar “March for Climate — Building a Resilient Taiwan” pada 1 November mendatang.
Sekretaris Jenderal Aliansi Aksi Iklim Mom Loves Taiwan, Huang Pin-han (黃品涵) menyampaikan, bencana akibat cuaca ekstrem semakin sering terjadi, mulai dari Topan Danas hingga danau bendungan di Sungai Mataian dan Sungai Liwu, menunjukkan bahwa pengalaman Taiwan dalam pencegahan dan mitigasi bencana perlu dievaluasi ulang agar dapat mengurangi dampak perubahan iklim.
Aksi pawai “March for Climate” ini mengusung tiga pilar ketangguhan utama, yaitu “membangun keberlanjutan dan keadilan lintas generasi”,“memperkuat keamanan nasional dan kemandirian”, “memperdalam demokrasi dan keberagaman budaya.”
Dari tiga pilar tersebut, mereka juga mengajukan 12 tuntutan utama, yakni “memperketat target pengurangan karbon tanpa tenaga nuklir, menjaga agar pemanasan global tidak melebihi 1,5°C”; “mewujudkan tata ruang nasional yang adil dan kolaboratif, membangun energi hijau yang berkeadilan dan tangguh terhadap iklim”; “memanfaatkan keahlian ekologis dan pengetahuan lokal untuk bersama-sama melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem serta keanekaragaman hayati”; “menjamin hak anak dan remaja untuk menyuarakan pendapat, serta memastikan generasi muda dan generasi mendatang memiliki hak hukum dan partisipasi dalam pengambilan keputusan iklim”; “menerapkan prinsip ‘pencemar membayar’ untuk meningkatkan daya saing industri rendah karbon”; “mengurangi ketergantungan pada energi impor dan meningkatkan keamanan serta kemandirian energi nasional”; “mendorong seluruh sektor industri berpartisipasi dalam adaptasi iklim demi masa depan yang berkelanjutan”; “menanggapi risiko perubahan iklim secara serius, serta memperkuat kemampuan adaptasi dan pemulihan dari dampaknya”; “mewujudkan sistem dukungan yang inklusif agar tak seorang pun tertinggal, melindungi keadilan sosial bagi komunitas lokal dan pekerja dalam transisi energi yang adil”; “mengembangkan jalur energi dengan konflik minimal dan meningkatkan partisipasi publik dalam proses pengembangan energi hijau”; “mempertahankan kedaulatan tanah dan menegakkan keadilan lingkungan melalui komunitas adat”; dan “menolak perang yang memperburuk krisis iklim serta menghentikan pendanaan terhadap tindakan genosida.”