Mencegah Demam Babi Afrika
1.Tidak membawa daging babi dari kawasan terjangkit Asfivirus masuk ke Taiwan
2.Jangan mengirim kue bulan yang mengandung daging dari luar negeri melalui pos
3.Perhatikan asal produk daging yang dibeli
※ Melanggar peraturan dengan membawa masuk produk daging akan dikenakan sanksi hukuman paling lama 7 tahun penjara dan denda sebesar NT$3 juta.
※Jika pekerja migran dikenakan hukuman karena melanggar UU Pelayanan Ketenagakerjaan maka izin kerjanya akan dicabut dan harus keluar dari Taiwan.
Saluran Hotline Pelaporan: 0800-039-131
Orang asing dapat menghubungi saluran hotline tenaga kerja asing 1955 untuk bantuan pelaporan
Referensi: Pusat Penanggulangan Kementerian Pertanian
PMI Ilegal Edarkan Narkoba di Taiwan! Bahkan Bersumpah Demi Istri dan Orang Tua di Atas Kitab Suci untuk Menyangkal, Polisi Taiwan: Langsung Amankan!
(Taiwan, ROC) --- Otoritas Taiwan kembali menyoroti sisi gelap dari keberadaan pekerja migran ilegal, menyusul terungkapnya dua kasus kriminal serius secara beruntun di Kota Taoyuan dan Tainan. Satu kasus melibatkan aksi kejar-kejaran dramatis dengan seorang buronan kasus penipuan, sementara kasus lainnya mengungkap jaringan peredaran narkotika yang pelakunya nekat bersumpah di atas Al-Qur'an untuk mengelak dari tuduhan.
Sumpah di Atas Al-Qur'an di Tengah Penggerebekan Narkoba
Di Distrik Rende, Tainan, sebuah operasi penggerebekan yang didasarkan pada informasi intelijen berhasil membongkar aktivitas seorang pekerja migran ilegal asal Indonesia berusia 45 tahun. Wakil Ketua Tim Investigasi Tainan, Hsu Che-li (許哲理), memimpin tim yang menyergap kamar sewaan tersangka.
Di lokasi, petugas menemukan sejumlah paket kecil amfetamin yang disembunyikan secara rapi di dalam kaleng teh, serta 7 paket besar ganja. Meskipun bukti telah terpampang jelas, tersangka melakukan penyangkalan keras.
Dalam upaya putus asa, ia mengambil sebuah foto Al-Qur'an dan mengucapkan sumpah tak lazim dalam bahasa Mandarin, "Jika narkotika ini milik saya, biarlah istri dan orang tua saya yang menanggung hukumannya."
Sikapnya yang tidak kooperatif memaksa polisi mendatangkan penerjemah resmi untuk melancarkan proses interogasi. Penyelidikan lebih lanjut mengungkap fakta mengejutkan, tersangka juga menyewa sebuah pondok pekerja di Distrik Alian, Kaohsiung, yang diduga kuat berfungsi sebagai gudang penyimpanan narkotika. Dalih dan sumpahnya yang dramatis akhirnya runtuh di hadapan bukti yang tak terbantahkan.
Aksi Pelarian Buronan di Jalanan Taoyuan
Sementara itu, di Distrik Guishan, Taoyuan, sebuah patroli rutin berubah menjadi adegan pengejaran menegangkan pada Senin pagi (27/10), Wakil Kepala Kantor Polisi Huilong, Wu Wen-chin (吳文欽), melaporkan bahwa petugas mencurigai gerak-gerik dua pria di atas sepeda motor di Wanshou Road. Saat hendak diperiksa, seorang penumpang pria bermarga Fan (范姓), yang merupakan pekerja migran ilegal asal Vietnam berusia 33 tahun, dilanda kepanikan.
Tanpa sempat melepas helmnya, ia melompat dari motor dan berlari kencang menyusuri jalan raya. Aksi pelariannya yang nekat, dengan berkelit di antara lalu lintas, berakhir sia-sia saat ia tersungkur dan berhasil dibekuk petugas. Saat dilumpuhkan, ia terus meronta. Verifikasi identitas mengungkap fakta yang lebih besar, ia bukan hanya pekerja ilegal, tetapi juga seorang buronan yang dicari atas kasus penipuan.
Kedua tersangka dari dua kasus terpisah ini kini telah diserahkan ke Kejaksaan Distrik dan Ditjen Imigrasi untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. Rentetan insiden ini menggarisbawahi tantangan serius yang dihadapi penegak hukum dalam memberantas aktivitas ilegal yang melibatkan pekerja tanpa dokumen, sekaligus menjadi pengingat bagi publik akan kompleksitas isu sosial yang menyertainya.
Dokter Ternama Taiwan Selamatkan Pekerja Migran Ilegal yang Hamil, Malah Ditinggal Biaya Medis Capai Jutaan NT$: Saya Tertipu!
(Taiwan, ROC) --- Di balik sebuah operasi penyelamatan nyawa yang heroik, tersimpan sebuah kisah pilu tentang kemanusiaan yang berbenturan dengan kenyataan pahit finansial.
Dokter Shi Jin-chung (施景中), seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan terkemuka dari Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH), menuangkan keluh kesahnya di media sosial setelah tindakan medisnya yang mulia justru meninggalkan utang macet sebesar NT$1,42 juta bagi rumah sakit.
Peristiwa ini bermula ketika seorang pekerja migran ilegal yang tengah menunggu deportasi dilarikan ke kliniknya. Pasien tersebut, yang sedang hamil 34 minggu, didiagnosis menderita plasenta akreta, sebuah kondisi medis sangat berbahaya yang mengancam nyawa ibu dan janin. Ia diantar oleh sebuah lembaga penampungan yang berjanji akan bertanggung jawab.
Menyadari pasien tidak memiliki asuransi kesehatan dan besarnya risiko operasi, Dokter Shi Jin-chung sejak awal telah mengingatkan pihak lembaga mengenai potensi biaya yang bisa mencapai ratusan ribu NT$.
"Fokus saja menyelamatkan pasien, jangan khawatir," demikian janji yang ia terima dari staf lembaga saat itu, yang meyakinkannya bahwa penggalangan dana akan diupayakan.
Berpegang pada sumpahnya sebagai dokter dan janji tersebut, Dokter Shi Jin-chung memimpin sebuah operasi caesar yang kompleks saat usia kehamilan pasien memasuki 35 minggu. Operasi berjalan sukses. Setelah melalui perawatan intensif, sang ibu dan bayinya yang baru lahir akhirnya dinyatakan sehat dan siap untuk pulang. Namun, di sinilah drama sesungguhnya dimulai.
Saat memeriksa rincian biaya, Dokter Shi Jin-chung dihadapkan pada sebuah tagihan yang fantastis, yakni NT$920.000 untuk perawatan sang ibu, dan NT$500.000 untuk bayinya yang sempat dirawat di NICU selama hampir dua minggu. Total keseluruhan mencapai NT$1,42 juta.
Upayanya untuk menghubungi staf lembaga yang berjanji menemui jalan buntu. Panggilan teleponnya diputus dengan alasan sibuk, dan pesan yang ia kirimkan tak pernah berbalas.
Puncaknya, pada hari kepulangan, pihak lembaga datang menjemput ibu dan bayinya tanpa sedikit pun menyinggung soal tagihan raksasa tersebut, meninggalkan pihak rumah sakit dalam kebingungan.
"Saya ditipu!" tulis Dokter Shi Jin-chung dalam curahan hatinya yang pilu di Facebook, sebuah ungkapan yang seketika memicu perbincangan hangat di dunia maya.
Gelombang simpati publik yang deras akhirnya memaksa pihak terkait untuk buka suara. Tak lama setelah unggahannya viral, Dokter Shi Jin-chung mengabarkan bahwa perwakilan dari yayasan tersebut telah menghubunginya.
Mereka mengklarifikasi bahwa telah terjadi kesalahpahaman komunikasi yang fatal, telepon diputus secara tidak sengaja karena sedang berada di tengah acara penting, dan mereka mengaku tidak terbiasa memeriksa pesan singkat.
Dalam klarifikasinya, pihak yayasan berjanji akan segera mencari cara untuk melunasi seluruh biaya medis tersebut, mencoba memulihkan kepercayaan yang sempat retak akibat insiden yang menyoroti dilema etis yang kerap dihadapi para pahlawan medis di garis depan.