(Taiwan, ROC) --- Di tengah riuh pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) di Busan, sebuah paradoks yang mengkhawatirkan membayangi jalanan Korea Selatan. Gelombang protes anti-Xi yang membara, kendati lahir dari kemarahan yang sah terhadap rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT), kini berisiko meluap menjadi sentimen kebencian rasial yang buta. Bagi para aktivis Tionghoa di Korea, perjuangan mereka kini memiliki dua front, yakni melawan tiran di Beijing dan memerangi prasangka di sekitar mereka.
Kekhawatiran ini disuarakan oleh Chi Ming-guang (池明光), seorang pemuda Tionghoa yang tinggal di Korea. Ia mengamati bagaimana lanskap politik di jalanan kini dipenuhi spanduk-spanduk yang saling bersahutan.
Di satu sisi, seruan CCP Out! dan slogan cemas seperti, Jika kita kehilangan demokrasi, akankah hari esok kita menjadi seperti Hong Kong? Hal ini menunjukkan ketakutan mendalam terhadap ekspansi pengaruh Beijing.
Namun, di sisi lain, ia menyaksikan dampak kelam dari propaganda sayap kanan ekstrem yang mengaburkan batas antara kritik politik dan rasisme.
"Terjadi beberapa insiden di mana mereka menyerang orang Tiongkok. Jika Anda terlihat seperti orang Tiongkok dan berbicara bahasa Mandarin, bahkan jika Anda orang Taiwan, Anda bisa saja dipukuli tanpa alasan. Ini adalah bahaya nyata," tegasnya.
Pemicu kemarahan publik Korea Selatan memang bukan tanpa dasar. Chi Ming-guang, seorang pemuda Tionghoa yang telah menjadi warga negara Korea, menjelaskan bahwa akumulasi berbagai tindakan agresif PKT telah menyulut api ketidakpuasan.
Mulai dari dugaan intervensi dalam pemilu Korea, spionase menggunakan drone di pangkalan militer, hingga peredaran narkoba, semua ini telah membentuk persepsi negatif yang kuat. Statistik bahkan menunjukkan bahwa 80% hingga 90% warga Korea memiliki sentimen anti-Tiongkok.
Sebagai seorang etnis Korea-Tiongkok yang juga merasakan penindasan di tanah kelahirannya, Chi Ming-guang kini aktif dalam aliansi pro-demokrasi. Ia turut serta dalam unjuk rasa akbar di Seoul, di mana sebuah balon raksasa setinggi 7 meter bertuliskan Jangan Lupakan 4 Juni, Gulingkan Tirani diterbangkan, menjadi simbol perlawanan yang kuat. Aksi ini menyatukan berbagai kelompok, mulai dari perwakilan Tibet, Uighur, Mongolia, hingga aktivis Hong Kong dan Taiwan, dalam satu suara menentang penindasan PKT.
Namun, Chi Ming-guang menyadari bahwa semangat perlawanan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Ia melihat sebagian pemuda Korea terjebak dalam mentalitas Pemberontakan Boxer, menentang segala hal yang berbau Tiongkok tanpa pandang bulu.
Di sinilah letak misi krusial para aktivis seperti dirinya. "Fokus utama kami sekarang adalah menunjukkan sisi sebenarnya dari Tiongkok. Kami perlu membedah bagaimana kondisi rakyatnya? Bagaimana kondisi pemerintahnya? Apa hubungan di antara mereka? Kami ingin masyarakat Korea perlahan-lahan mengerti," terang Chi Ming-guang.
Pesan mereka jelas, pertempuran ini adalah melawan Xi Jin-ping dan rezim otoriternya, bukan melawan rakyat Tiongkok yang banyak di antaranya juga merupakan korban dan mendambakan kebebasan.
Di tengah ketegangan geopolitik yang dipentaskan oleh para pemimpin dunia, perjuangan sesungguhnya di jalanan Korea adalah untuk memastikan bahwa perlawanan terhadap tirani tidak mengorbankan kemanusiaan itu sendiri.