(Taiwan, ROC) --- Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang telah berakhir, menjadi sorotan panggung politik global.
Media internasional mengamati dengan saksama pertemuan tertutup ini, memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan munculnya figur penerus Presiden Xi Jin-ping (習近平).
Namun, analisis dari para pakar justru menyajikan pandangan yang bertolak belakang, suksesi kepemimpinan dinilai mustahil terjadi dalam waktu dekat, dengan alasan fundamental bahwa seorang pemimpin absolut tidak akan pernah menyiapkan penggantinya.
Meskipun komunike resmi belum dirilis, laporan seperti yang diterbitkan The New York Times telah memicu diskusi mengenai dilema kekuasaan jangka panjang Xi Jin-ping dan siapa yang berpotensi menggantikannya.
Menanggapi hal ini, Wang Hong-ren (王宏仁), Direktur Eksekutif Institut Riset Kebijakan Nasional Taiwan, mengakui bahwa perubahan personel di Komite Sentral dan Komisi Militer memang akan disahkan.
Namun, ia meyakini narasi tersebut akan disampaikan secara implisit untuk menghindari spekulasi berlebihan. Menurutnya, sekalipun ada darah baru yang masuk, tetapi mereka tidak dapat diartikan sebagai calon suksesor.
"Saya rasa yang cukup pasti adalah tidak akan ada pembahasan mengenai penerus," tegas Wang Hong-ren.
"Sudah sangat pasti Xi Jin-ping akan melanjutkan masa jabatannya. Kalaupun sekarang ada beberapa darah baru yang masuk ke Komite Sentral, itu hanyalah kandidat potensial tersembunyi, tapi kemungkinan besar mereka semua bukanlah penerus di masa depan," lanjutnya.
Pandangan ini diperkuat oleh Lin Sheng-liang (林生亮), pendiri Database Akuntabilitas Hak Asasi Manusia Tiongkok. Ia berpendapat bahwa menafsirkan isu penerus saat ini adalah langkah yang sia-sia, karena seorang diktator seperti Xi Jin-ping pada dasarnya tidak mempercayai siapa pun.
Ia mengupas sisi psikologis seorang pemimpin absolut dengan merujuk pada sejarah Mao Ze-dong (毛澤東), yang beberapa kali mengganti calon penerusnya, mulai dari Liu Shao-qi (劉少奇), Lin Biao (林彪), hingga Hua Guo-feng (華國鋒), tanpa pernah melepas kekuasaannya hingga akhir hayat.
"Kita sering lupa bahwa diktator sering kali memiliki kelainan psikologis, tidak mempercayai siapa pun. Kepribadian seorang diktator adalah mencurigai segalanya," ujar Lin Sheng-liang.
Lebih jauh, Lin Sheng-liang menekankan bahwa Xi Jin-ping telah berada di posisi tidak ada jalan untuk kembali. Setelah mengubah konstitusi untuk masa jabatan ketiga dan melanggar aturan tak tertulis bahwa hukuman tidak berlaku bagi anggota Komite Tetap Politbiro, Xi Jin-ping harus terus melakukan pembersihan internal untuk mengonsolidasikan kekuasaannya.
"Begitu aturan itu dilanggar, itu berarti jika Xi Jin-ping mundur, ia pun bisa saja dibersihkan oleh orang-orang di dalam partai," jelasnya.
Menurut Lin Sheng-liang, sorotan media asing terhadap isu suksesi lebih merupakan strategi untuk menyederhanakan dinamika politik internal Tiongkok yang kompleks agar lebih menarik bagi pembaca internasional.
Ia menyarankan bahwa hal yang lebih realistis untuk diamati bukanlah siapa penerusnya, melainkan siapa saja yang menjadi korban pembersihan politik Xi dan siapa figur baru yang dipromosikan.
Fakta bahwa Xi Jin-ping bahkan menyingkirkan loyalis dari faksi Tentara Baru Zhijiang dan Geng Fujian menunjukkan tingkat kecurigaan yang mendalam dari seorang pemimpin absolut.
Pada akhirnya, para pengamat menyimpulkan bahwa segala kemungkinan masih terbuka, termasuk opsi untuk tidak mengisi penuh posisi yang kosong jika Xi Jin-ping belum menemukan kandidat yang ia percayai sepenuhnya. Fokus yang lebih relevan bukanlah mencari sosok penerus yang nihil, melainkan mengamati dinamika konsolidasi kekuasaan yang terus berlanjut di bawah kepemimpinan Xi Jin-ping.