Museum Istana Taipei: Gudang Pusaka Budaya Tionghoa
Museum Nasional Istana, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Istana Taipei, berdiri pada tahun 1965 di kawasan Waishuangxi, Taipei. Bangunannya bergaya arsitektur istana tradisional Tiongkok dan merupakan museum terbesar di Taiwan.
Museum ini dikenal sebagai tempat penyimpanan koleksi seni dan artefak budaya Tiongkok terbanyak di dunia, dengan jumlah mencapai hampir 700 ribu benda koleksi. Karena itu, Museum Istana Taipei sering dijuluki sebagai “Gudang Pusaka Budaya Tionghoa”, bahkan muncul ungkapan terkenal:
“Di Museum Istana Beijing lihat bangunannya, di Museum Istana Taipei lihat koleksinya.”
Seiring dengan perkembangan teknologi digital, Museum Istana Taipei kini juga berupaya memperbarui seluruh pameran dan fasilitasnya. Dengan mengusung konsep arsip digital dan museum digital, museum ini bertransformasi menjadi museum virtual tanpa batas dinding, memungkinkan publik menikmati artefak berharga secara daring melalui teknologi visual.
Tiga Harta Karun Istana
Museum Istana Taipei memiliki tiga koleksi paling terkenal yang dijuluki “Tiga Harta Karun Istana”. Awalnya istilah ini merujuk pada tiga lukisan tinta besar dari masa Dinasti Song Utara, namun dalam perkembangannya, masyarakat lebih mengenal versi lain dari “Tiga Harta Karun” yang terdiri atas:
1. Giok Sawi Putih (翠玉白菜 / Jadeite Pakcoy)
2. Batu Berbentuk Daging (肉形石 / Meat-shaped Stone)
3. Mao Gong Ding (毛公鼎)
Ketiganya kerap dipamerkan dan menjadi daya tarik utama museum, menarik pengunjung dari seluruh dunia.


Di Museum Nasional Istana Taipei tersimpan tiga buah Sawi Giok, masing-masing bernama:
• Sawi Giok (mahar Selir Jin)
• Sawi Giok Kecil
• Vas Bunga Sawi Giok
Ketiganya berasal dari istana Dinasti Qing.
Selain itu, di Tiongkok Daratan juga terdapat dua buah Sawi Giok lain, masing-masing disimpan di Museum Istana Beijing dan Museum Tianjin. Konon, Permaisuri Cixi juga memiliki Sawi Giok kesayangannya sendiri, yang dijadikan benda pendamping makam. Sawi tersebut berwarna hijau daun dan putih di tengah, dengan ukiran seekor belalang yang mengepakkan sayap serta dua ekor tawon.
Namun, pada masa kekacauan, Sun Dianying, seorang perwira militer, meledakkan makam Kaisar Qianlong dan Permaisuri Cixi untuk menjarah harta makam, termasuk Sawi Giok milik Cixi, yang kemudian hilang tanpa jejak. Dengan demikian, setidaknya ada enam karya seni bertipe Sawi Giok di dunia, meski ukuran dan gayanya berbeda-beda.
Asal-Usul Mahar Selir Jin
Tahukah Anda bahwa Sawi Giok di Museum Istana Taipei sebenarnya adalah mahar Selir Jin, salah satu istri Kaisar Guangxu dari Dinasti Qing?
Jika menyebut para selir di masa Qing, banyak orang teringat pada ibu sur Cixi dan Selir Zhen, yang sangat terkenal. Namun, nasib Selir Zhen sangat tragis. Ia dilempar ke sumur hingga tewas mengenaskan atas perintah Cixi karena ia merasa Selir Zhen membantu kaisar melawan ibu surinya sendiri.
Selir Zhen memiliki kakak perempuan bernama Selir Jin, dua tahun lebih tua darinya. Merekalah dua saudari yang sama-sama masuk istana sebagai selir Kaisar Guangxu, namun dengan nasib yang sangat berbeda.
Meskipun Selir Jin tidak secantik adiknya dan tidak mendapat perhatian Kaisar, ia menjalani hidup makmur dan meninggal dengan tenang. Sawi Giok yang tersimpan di Museum Istana Taipei adalah mahar pernikahannya, yang sarat dengan makna simbolis.


Makna Simbolik Sawi Giok
Sejak zaman kuno, baik kalangan istana maupun rakyat biasa di Tiongkok pandai menemukan makna keberuntungan dalam benda sehari-hari. Karena bunyi kata “pakcoy” (白菜) mirip dengan “banyak rezeki” (百財), sayuran ini menjadi simbol kekayaan dan kemakmuran.
Lebih dari itu, “giok” (玉) memiliki bunyi yang sama dengan “menemui” (遇), sehingga muncul makna tambahan “menemui banyak rezeki”.
Warna hijau (青) dan putih (白) pada pakcoy juga mengandung arti “suci dan bersih” (清白), sehingga Sawi Giok menjadi simbol kesucian dan kemurnian seorang wanita — makna yang sangat sesuai untuk mahar pernikahan.
Kecintaan masyarakat terhadap Sawi Giok tidak hanya terbatas di istana. Dalam tradisi rakyat Tiongkok, menggantung Sawi Giok di rumah dipercaya dapat menangkal penyakit dan menjaga kesehatan keluarga.
Jika Sawi Giok dipadukan dengan kura-kura, melambangkan kesehatan dan umur panjang. Sementara itu, menempatkan satu Sawi Giok di rumah dipercaya memperkuat hubungan percintaan dan keharmonisan antaranggota keluarga.
Karya Seni dari Alam dan Keahlian Manusia
Sawi Giok di Museum Istana Taipei dibuat dari sepotong giok utuh yang berwarna setengah putih dan setengah hijau. Sang pemahat dengan cerdik memanfaatkan warna alami batu giok: bagian hijau diukir menjadi daun sawi, bagian putih menjadi batangnya, dan di bagian hijau yang paling pekat diukir dua ekor serangga, yaitu belalang dan belalang kerik. Kedua serangga ini tampak hidup dan kelihatan seperti sedang bersantai di atas daun.
Kedua serangga ini melambangkan banyak anak dan cucu, karena dalam alam mereka dikenal bertelur dalam jumlah besar dan berkembang biak dengan cepat.
Dengan demikian, Sawi Giok tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung doa untuk keturunan yang banyak, keluarga harmonis, dan kehidupan makmur.
Karya ini menunjukkan perpaduan sempurna antara keindahan alam dan keahlian pengrajin, di mana cacat alami pada batu giok diubah menjadi tekstur daun yang realistis. Hasilnya adalah karya seni yang tampak hidup dan penuh makna.