(Taiwan, ROC) --- Beijing melancarkan serangan psikologis dan politik secara terkoordinasi yang menargetkan Taiwan, dengan intensitas yang meningkat tajam di sekitar Sidang Pleno Keempat Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Para pakar memperingatkan bahwa rangkaian manuver ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah strategi perang kognitif yang dirancang untuk mengeksploitasi dan memperdalam perpecahan politik internal Taiwan, sehingga melumpuhkan kemampuannya untuk membentuk konsensus dalam menghadapi tekanan eksternal.
Dalam beberapa pekan terakhir, Beijing secara sistematis menggulirkan serangkaian aksi simbolis dan naratif. Dimulai dari penetapan Hari Peringatan Restorasi Taiwan, diikuti oleh rilis tiga artikel berturut-turut oleh media corong pemerintah, Xinhua, yang secara agresif mendorong narasi reunifikasi penuh.
Puncaknya, Rencana Lima Tahun ke-15 yang baru disahkan menekankan pentingnya memegang kendali dominan dalam hubungan lintas selat. Tak berhenti di situ, mesin propaganda juga digerakkan melalui media populer, dengan promosi gencar serial drama spionase Silent Honor dan film Pertempuran Laut Penghu yang beraroma pro-unifikasi.
Rentetan aksi ini, menurut para analis, adalah bagian dari sebuah kampanye yang lebih besar dan lebih terukur.
Strategi Memecah Belah dari Dalam
Kuo Jui-hua (郭瑞華), mantan kepala Departemen Analisis Lintas Selat di Biro Investigasi, mengidentifikasi manuver ini sebagai metode perang kognitif klasik. Tujuannya, menurutnya, bersifat ganda, yaitu meningkatkan tekanan psikologis pada masyarakat Taiwan, dan yang lebih berbahaya, memicu polarisasi di dalam negeri.
"Ini akan memperuncing konfrontasi antara kubu Biru dan Hijau. Strategi semacam ini pada akhirnya akan memperdalam perpecahan politik internal Taiwan, sehingga Taiwan akan semakin sulit untuk membentuk sikap yang solid dalam menghadapi pihak luar," ujar Kuo Jui-hua.
Dengan menyodorkan isu-isu yang sensitif, Beijing secara efektif memaksa faksi-faksi politik di Taiwan untuk saling berhadapan, mengalihkan fokus dari ancaman eksternal menjadi pertikaian domestik.
Momentum Kritis dan Proyeksi Kebijakan Baru
Lantas, mengapa eskalasi ini terjadi sekarang? Qi Le-yi (亓樂義), seorang peneliti di Institut Riset Keamanan dan Pertahanan Nasional (INDSR), menunjuk pada beberapa faktor krusial. Pertama, ini adalah respons langsung Beijing untuk melawan narasi kedaulatan Taiwan yang belum ditentukan dan perdebatan internasional seputar Resolusi PBB 2758.
Kedua, dan yang paling penting, adalah signifikansi Rencana Lima Tahun ke-15. "Rencana ini adalah jembatan penghubung yang krusial," analisis Qi Le-yi. Dengan Pemilu Taiwan 2028 yang jatuh tepat di tengah periode rencana ini, ia meyakini Beijing sedang mempersiapkan langkah-langkah baru dalam kebijakannya terhadap Taiwan, yang juga dipengaruhi oleh dinamika internal Partai Kuomintang (KMT).
Pandangan ini diperkuat oleh Chang Wu-ueh (張五岳), Direktur Pusat Studi Hubungan Lintas Selat di Universitas Tamkang. Ia mengamati adanya benang merah historis yang ditarik secara sengaja oleh PKT, yakni dari Perjanjian Shimonoseki hingga Resolusi PBB 2758, untuk melegitimasi klaimnya.
"Bobot kebijakan lintas selat dalam Rencana Lima Tahun ke-15 akan mencapai level signifikansi yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegasnya.
Perubahan Taktis atau Pergeseran Strategis?
Namun, tidak semua pakar sepakat bahwa ini menandakan sebuah perubahan fundamental. Kuo Jui-hua berpandangan lebih hati-hati, menyatakan bahwa narasi yang digunakan saat ini sebagian besar adalah pengulangan dari apa yang telah disampaikan sejak Kongres Nasional ke-20 PKT.
"PKT sering berubah-ubah dalam penggunaan istilah. Konsensus 1992 kadang disebut, kadang tidak. Menurut saya, kebijakan dasarnya tidak banyak berubah. Akan ada penyesuaian minor, tetapi tidak ada perubahan besar yang revolusioner," jelasnya.
Qi Le-yi sependapat bahwa perubahan yang terlihat saat ini lebih bersifat taktis ketimbang strategis. Namun, ia memperingatkan bahwa ketiadaan perubahan strategis saat ini bukan jaminan untuk masa depan. Dengan variabel kunci seperti hubungan AS-Tiongkok yang terus berfluktuasi, ia memproyeksikan Beijing pada akhirnya akan melakukan penyesuaian strategis untuk menciptakan situasi yang lebih menguntungkannya.
Ia meramalkan pendekatan masa depan Beijing akan menjadi semakin terpolarisasi, "Yang keras akan semakin keras, dan yang lunak akan semakin lunak." Sebuah strategi dua arah yang dirancang untuk membuat Taiwan kewalahan dan sulit untuk bertahan.