Jika Anda berkunjung ke rumah warga Taiwan, hampir pasti Anda akan menemukan Panci Listrik Tatung—peralatan dapur sederhana yang justru mendominasi lebih dari 90% pasar selama bertahun-tahun. Sejak diluncurkan pada 1960, Tatung Company mencatat penjualan tahunan 450.000–500.000 unit. Dengan 8,37 juta rumah tangga di Taiwan, rata-rata setiap keluarga memiliki 1,7 unit.
Meski tampak kuno di tengah era smart home, panci listrik ini tetap tak tergantikan. Alasannya: fungsi serbaguna. Di Taiwan, ia bukan sekadar "penanak nasi", melainkan panci listrik yang bisa menanak, mengukus, merebus, hingga mengungkep. Dari nasi, ikan kukus, sup ayam, hingga daging kecap, semua bisa dibuat hanya dengan satu alat. Bahkan, sebagian keluarga menggunakannya untuk membuat bolu atau saripati ayam.
Keunggulan utamanya terletak pada prinsip fisika sederhana, yaitu pemanasan air secara tidak langsung (double boiler). Air di panci luar diuapkan untuk memanaskan panci dalam secara merata. Ketika air habis dan suhu naik, sakelar otomatis memutus pemanasan dan beralih ke mode hangat. Volume air berfungsi sebagai pengatur waktu. Semakin banyak airnya, waktu pemanasan lebih lama; semakin sedikit airnya, waktu pemanasan lebih singkat. Sistem ini stabil, tidak mudah gosong, dan nyaris tanpa komponen elektronik.
Dengan desain yang tahan lama, mudah dipakai, dan fleksibel, Panci Tatung berhasil membangun sistem memasak yang stabil, dapat diandalkan, dan multifungsi.