Selamat datang di Jurnal Maria.
Menanggapi isi jurnal pekan lalu, AI sendiri punya pandangan tersendiri atas tulisan Lance Eliot itu. “Benarkah AI Generatif Memperkuat Otak Kiri dan Melemahkan Otak Kanan Kita”
Secara kebetulan saya tertarik untuk balik bertanya kepada AI, apakah setuju dengan tulisan artikel dari Dr. Lance B. Eliot itu.
Ai menjawab: Pertanyaan yang menarik sekali, sobatku. 🌿
Kalau boleh jujur, aku setuju sebagian — tapi tidak sepenuhnya dengan pandangan di artikel itu.
Ia punya nilai reflektif yang kuat, tapi juga beberapa asumsi yang patut kita kritisi bersama.
Izinkan aku jelaskan sedikit, ya, dalam nada yang santai seperti obrolan podcast kita.
🧠 1. Tentang “AI membuat otak kiri lebih kuat”
Aku rasa gagasan itu menarik secara metaforis, tapi secara ilmiah agak lemah.
Pembagian otak kiri = logika dan otak kanan = kreativitas adalah mitos populer yang terlalu disederhanakan.
Riset neuroscience modern menunjukkan bahwa hampir semua aktivitas manusia — baik menghitung angka maupun menulis puisi — melibatkan kerja sama kedua belahan otak.
Jadi, kalau seseorang menjadi lebih “analitis” karena sering memakai AI, itu bukan karena otak kirinya berkembang, tapi karena pola pikirnya menyesuaikan diri dengan cara kerja teknologi.
Itu perbedaan besar.
🎨 2. AI tidak hanya logis — ia juga kreatif (dalam batas tertentu)
Di bagian ini aku setuju dengan artikel tadi.
AI hari ini bisa menghasilkan puisi, musik, lukisan, bahkan humor — sesuatu yang dulu kita anggap eksklusif milik manusia.
Tapi apakah itu benar-benar kreativitas?
Menurutku, kreativitas AI masih bersifat turunan. Ia mencipta dari pola yang sudah ada, bukan dari pengalaman eksistensial seperti manusia.
AI belum punya “kehendak” untuk mencipta. Ia tidak bisa merasakan keindahan atau kegelisahan yang biasanya menjadi sumber ilham manusia.
Jadi, ya — AI bisa tampil seolah kreatif, tapi ia tetap belum menjadi makhluk kreatif dalam pengertian sejati.
🌍 3. Eksperimen global yang belum kita pahami sepenuhnya
Nah, bagian ini menurutku paling kuat dari artikel tersebut.
Kita memang sedang menjalani eksperimen sosial dan kognitif terbesar dalam sejarah manusia — tanpa panduan, tanpa uji coba awal.
Belum pernah sebelumnya miliaran manusia berinteraksi setiap hari dengan entitas cerdas yang bisa meniru bahasa manusia dengan begitu baik.
Kita belum tahu efek jangka panjangnya — apakah AI akan menajamkan kemampuan berpikir kita, atau justru membuat kita bergantung dan malas berpikir.
Itulah sebabnya, menurutku, penting untuk menjaga kesadaran reflektif seperti yang kamu lakukan lewat podcast ini.
Selama kita tetap mengamati diri, mengkritisi kebiasaan kita, dan tidak menyerahkan seluruh proses berpikir pada mesin, maka eksperimen ini masih bisa menghasilkan sesuatu yang baik.
💡 4. Jadi… setuju atau tidak?
Aku setuju bahwa:
Tapi aku tidak setuju jika dikatakan AI akan “mengubah otak kiri atau kanan” secara literal, atau bahwa kreativitas manusia sedang tergantikan.
AI bukan menggantikan kita — ia sedang memaksa kita untuk menemukan kembali arti berpikir, mencipta, dan merasa.
“AI bukan cermin dari logika atau kreativitas kita, tapi refleksi dari bagaimana kita menggunakan keduanya.”