Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Jiwa Muda - Lotek Tomat Saus Jahe, Cita Rasa Jadul Khas Taiwan Selatan

(foto: AI)
(foto: AI)
(foto: Coast Guard)
(foto: Coast Guard)
(foto: Canva)
(foto: Canva)

Kabur Belasan Tahun, PMI Terciduk saat Ajak Anak Jalan-Jalan

Seorang PMI berusia 40-an bekerja secara ilegal di Taiwan selama 11 tahun 9 bulan. Enam tahun lalu ia melahirkan seorang anak perempuan. Beberapa waktu lalu, saat ia membawa anaknya berjalan-jalan di Jembatan Wisata Wanggong di Changhua, petugas penjaga pantai melihatnya. Setelah pemeriksaan, keduanya telah diserahkan ke Satgas Imigrasi Taichung untuk ditampung sesuai prosedur hukum.

Saat petugas Penjaga Pantai sedang berpatroli di Jembatan Wisata Wanggong, mereka melihat perempuan Indonesia tersebut bersama anak perempuannya yang berusia 6 tahun. Ketika petugas mendekat untuk melakukan pemeriksaan, perempuan itu tampak panik. Setelah dibawa ke Pos Pemeriksaan Keamanan Wanggong, barulah diketahui bahwa ia berstatus kaburan selama 11 tahun 9 bulan.

Jika dihitung, sejak hari ia kabur hingga tertangkap, ia telah tinggal secara ilegal di Taiwan selama 4.375 hari. Setelah menyelesaikan proses pencatatan dan pemeriksaan, petugas segera menyerahkan ibu dan anak itu kepada Satgas Imigrasi Taichung di bawah Ditjed n Imigrasi Kementerian Dalam Negeri untuk ditampung dan ditangani sesuai hukum.

Satuan Penjaga Pantai Wilayah Pesisir Ketiga menegaskan bahwa demi menjaga keamanan nasional dan ketertiban di kawasan pelabuhan, mereka akan terus memperkuat patroli di garis pantai, wilayah pelabuhan, dan perairan sekitarnya, serta aktif mendeteksi setiap situasi mencurigakan. Otoritas penjaga pantai juga mengimbau masyarakat: jika menemukan orang atau aktivitas mencurigakan di sekitar, segera hubungi hotline laporan Penjaga Pantai 118, agar bersama-sama menjaga keamanan perbatasan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih aman.

 

Survei: Hampir 40% Anak-Anak dan Remaja Taiwan Merasa Tertekan

Tanggal 20 November lalu merupakan Hari Anak Sedunia. Terkait dengan hal tersebut, Yayasan Liga Kesejahteraan Anak (CWLF) merilis survei baru-baru ini, mengungkapkan, bahwa anak-anak dan remaja Taiwan menghadapi tekanan yang signifikan, termasuk beban akademis dan kecemasan akan penampilan. Hampir 40% anak-anak dan remaja percaya "dunia tidak akan peduli jika saya pergi," mendesak semua sektor untuk mengatasi tekanan mental dan fisik yang dihadapi anak-anak dan remaja.

Menurut "Laporan Survei Kesejahteraan Anak 2025" terbaru, meskipun kepuasan hidup subjektif anak-anak sekolah Taiwan telah meningkat menjadi 72 poin, angka tersebut masih tertinggal dari "Survei Internasional Perilaku Sehat Anak Usia Sekolah 2021/2022". Lebih lanjut, hampir 40% anak-anak dan remaja mengatakan, "tidak masalah jika dunia tanpa saya," dan rasa keterasingan psikologis mereka telah mencapai titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Survei menunjukkan bahwa meskipun kepuasan hidup subjektif anak-anak dan remaja Taiwan meningkat 4 poin dibandingkan tahun lalu, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan angka 73,5 poin pada tahun 2023. Secara keseluruhan, 72% anak-anak dan remaja merasa puas dengan hidup mereka, menunjukkan peningkatan kebahagiaan. Namun, dibandingkan dengan rata-rata internasional, kepuasan anak-anak dan remaja Taiwan tergolong rendah, terlepas dari usia atau jenis kelamin, terutama di kalangan anak perempuan berusia 13 tahun, yang skor kepuasannya hanya 48,9 poin, jauh di bawah rata-rata internasional untuk kelompok usia mereka.

Analisis lebih lanjut tentang perasaan anak-anak dan remaja tentang berbagai aspek kehidupan mengungkapkan bahwa anak-anak paling puas dengan "rumah" mereka, sebagian besar memiliki "persahabatan" yang baik, dan paling tidak puas dengan "penampilan" mereka, diikuti oleh ketidakpuasan dengan "waktu luang" dan "pilihan hidup" mereka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun anak-anak stabil dalam kehidupan dan hubungan interpersonal mereka, mereka masih kurang memiliki identitas diri dan rasa kendali.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 27% anak-anak dan remaja menganggap diri mereka "sangat sehat", sedikit meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi masih jauh lebih rendah daripada rata-rata internasional. Lebih lanjut, seiring bertambahnya usia, penilaian diri mereka terhadap kesehatan mereka secara bertahap menurun, dengan hanya sekitar 15,8% anak perempuan berusia 13 tahun yang menganggap diri mereka sehat, mencerminkan persepsi yang lebih negatif terhadap kondisi mereka sendiri ketika menghadapi perubahan dan stres selama masa remaja.

Anak-anak dan remaja Taiwan juga cenderung memiliki penilaian diri yang negatif terhadap penampilan mereka. Terlepas dari usia atau jenis kelamin, persentase mereka yang menganggap diri mereka "sedikit gemuk atau terlalu gemuk" lebih tinggi daripada rata-rata internasional. Di antara anak perempuan berusia 13 tahun, 46,3% tidak puas dengan bentuk tubuh mereka, yang menunjukkan kecemasan penampilan yang meluas dan kurangnya kepercayaan diri.

Mengenai kebiasaan gaya hidup, meskipun anak-anak dan remaja Taiwan memiliki kualitas tidur yang lebih baik daripada rata-rata internasional, baik anak laki-laki maupun perempuan menunjukkan aktivitas fisik yang jauh kurang, jauh di bawah rata-rata internasional. Survei menunjukkan bahwa hanya 24,5% anak perempuan berusia 13 tahun yang memiliki kebiasaan berolahraga teratur, penurunan signifikan sebesar 15,9% dibandingkan dengan anak usia 11 tahun, dan kurang dari setengah rata-rata internasional.

Data juga menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja Taiwan umumnya memiliki persepsi yang rendah terhadap dukungan teman sebaya. Hanya 46,7% anak yang percaya bahwa teman sekelas mereka ramah, suka menolong, atau menerima, persentase yang lebih rendah daripada rata-rata internasional. Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat dukungan teman sebaya untuk anak usia 11 tahun dan laki-laki sekitar 10% lebih rendah daripada rata-rata internasional, yang menunjukkan bahwa hampir separuh anak-anak masih merasa terisolasi atau sulit berintegrasi dalam interaksi kelas, yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka.

Lebih lanjut, CWLF menyatakan bahwa tekanan akademis pada anak-anak dan remaja Taiwan muncul lebih awal dibandingkan tekanan akademis di tingkat internasional. Di antara anak laki-laki berusia 11 tahun, 40,8% melaporkan merasakan tekanan akademis, jauh lebih tinggi daripada rata-rata internasional. Bagi anak perempuan, tekanan yang dirasakan meningkat sekitar 10% dari 34,5% menjadi 46% antara usia 11 dan 13 tahun. Mengenai kepuasan sekolah, hanya sekitar 30% siswa yang melaporkan "sangat menikmati sekolah", sementara proporsi anak perempuan berusia 13 tahun turun menjadi hanya 10%, kurang dari setengah rata-rata internasional.

CWLF mengakui niat baik pemerintah dalam mengumumkan pembentukan "Administrasi Anak dan Keluarga" di bawah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan baru-baru ini. Namun, untuk membantu anak-anak dan remaja mencapai perkembangan fisik dan mental yang lebih stabil dan seimbang, CWLF mendesak upaya berkelanjutan untuk memperkuat layanan pencegahan dini dan dukungan bagi kesehatan mental anak-anak, mengadvokasi "Hari Olahraga Akhir Pekan" untuk mengembalikan olahraga ke dalam kehidupan anak-anak, dan memanfaatkan sepenuhnya sumber daya CWLF untuk bantuan tepat waktu dan perlindungan berkelanjutan bagi kesehatan mental.

 

Lotek Tomat Saus Jahe, Cita Rasa Jadul Khas Taiwan Selatan

Di kedai es buah atau kios buah di Taiwan bagian selatan, sering terlihat satu hidangan buah yang unik, yaitu “lotek tomat saus jahe”, yang mungkin terasa asing bagi warga Taiwan utara maupun tengah. Biasanya, hidangan ini berupa sepiring besar tomat hitam yang disajikan bersama saus kental di piring kecil. Saus tersebut terbuat dari parutan jahe, gula pasir, dan bubuk akar manis, yang dicampur dengan kecap kental. Bagi banyak orang di selatan, ini adalah camilan klasik yang sudah biasa dinikmati sejak kecil.

 

Konon, pada abad ke-17, Belanda membawa tomat hitam (black persimmon tomato) ke Taiwan sebagai varietas tomat pertama di pulau ini. Namun, bagi masyarakat Taiwan pada masa itu, tomat jenis ini terasa agak asam dan keras, sehingga sulit diterima. Karena itu, penduduk setempat mencoba menikmatinya dengan saus campuran jahe dan kecap asin. Tak disangka, perpaduan cita rasa Timur dan Barat ini justru sangat cocok dengan selera lidah orang Taiwan, dan sejak itu diwariskan turun-temurun menjadi cita rasa klasik khas Taiwan selatan.

 

 

Wawancara dengan Ignatius Reyner Giovanni

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解