Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Bocah Penjual Sayur yang Menjadi Pemilik Mr. Brown Coffee & KAVALAN Whisky

05/12/2025 Apa & Siapa
Li Tian-cai (tengah) | foto: King Car
Li Tian-cai (tengah) | foto: King Car

Pada tahun 1940-an, di pegunungan Jinguashi, Kota Baru Taipei, langit masih gelap ketika Li Tiancai harus bangun pagi-pagi sekali. Dengan langkah terburu-buru, ia keluar rumah menuju pasar grosir yang letaknya cukup jauh. Tujuannya sederhana, tapi penting: membeli sayur sebelum pasar ramai dan kembali menata lapaknya tepat waktu. Karena ayahnya meninggal lebih awal, tanggung jawab keluarga jatuh di pundak Li Tiancai yang masih kecil. Beban itu terlalu besar untuk seorang anak, tapi ia tak punya pilihan selain menghadapinya.

 

Pada masa itu, sopir truk pengangkut barang punya aturan tak tertulis: pedagang sayur hanya boleh menumpang kembali ke kota jika membeli lima keranjang sayur. Bagi Li Tiancai, yang belum genap sepuluh tahun, itu jelas tugas yang mustahil. Tapi ia punya cara sendiri. Seperti anak kucing yang lincah, ia diam-diam memanjat ke belakang truk saat sopir lengah, bersembunyi di antara keranjang sayur. Taktik ini tidak selalu berhasil. Suatu hari, rahasianya ketahuan. Sopir menghardiknya dengan kasar dan tanpa ampun mengusirnya turun. Li Tiancai berdiri sendirian di jalan sepi, air matanya menetes, menatap truk yang menjauh. Saat itu ia berjanji pada dirinya sendiri, “Suatu hari nanti, aku akan membeli seratus, bahkan seribu truk — agar tak ada seorang pun bisa mengusirku lagi.”

 

Banyak orang berpikir, awal dari kerajaan bisnis besar berasal dari perencanaan yang matang dan visi besar. Tapi sering kali, semuanya dimulai dari keinginan dan tekad sesaat seorang anak kecil, dan kecerdasan bisnis mereka bukan lahir dari buku teori, tapi dari naluri bertahan hidup di jalanan. Begitulah kisah Li Tiancai dan King Car dimulai, dari air mata seorang anak di pagi buta di pegunungan Jinguashi.

Bagi kebanyakan orang, mendengar nama King Car, yang terlintas mungkin adalah minuman, kopi, wiski, atau bir. Tapi tak banyak yang tahu bahwa kisah kekayaan Li Tiancai sebenarnya dimulai dari pestisida.

Kita kembali ke akhir 1940-an. Saat itu, pemerintah Republik Tiongkok, dengan dukungan WHO dan lembaga bantuan Amerika, meluncurkan kampanye pemberantasan malaria besar-besaran di seluruh Taiwan. Senjata utamanya adalah penyemprotan DDT di setiap rumah tangga. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, kampanye ini sangat sukses. Taiwan bahkan menjadi daerah pertama di dunia yang secara resmi dinyatakan bebas malaria. Tapi tanpa disadari, kampanye itu juga meninggalkan dua kesan mendalam bagi masyarakat awam yang saat itu rata-rata berpendidikan rendah: pertama, nyamuk bisa menularkan penyakit mematikan; kedua, bahan kimia adalah cara efektif membunuh nyamuk.

Entah karena naluri bisnis yang tajam, keberuntungan, atau bantuan orang-orang baik, pada tahun 1956, di usia 19 tahun, Li Tiancai bersama beberapa saudaranya mengumpulkan modal dan mendirikan Zhi Cheng Industrial Co., Ltd. Mereka memutuskan untuk memproduksi obat pembasmi serangga dan obat nyamuk bakar. Ini merupakan pilihan bisnis yang cerdas karena mereka tidak perlu lagi mendidik pasar dari nol, karena pemerintah sudah melakukannya. Mereka hanya perlu menyediakan produk rumah tangga yang efektif, aman, mudah dibeli, dan terjangkau.

Kesuksesan awal Zhi Cheng Industrial datang dari dua produk andalan: semprotan pembasmi serangga bernama "Pen Siao" dan obat nyamuk bakar "Mie Fei". Dalam penamaan merek, Li Tiancai benar-benar jenius. Pen Siao langsung memberi kesan “sekali semprot langsung ampuh”, sedangkan Mie Fei menggambarkan hasil akhirnya: “mematikan lalat”. Nama-nama ini tidak perlu penjelasan tambahan, konsumen langsung mengerti manfaat produknya. Ini membuktikan satu hal sederhana: bisnis sejati adalah membantu orang menyelesaikan masalah, dan mendapatkan imbalan dari situ.

Pada dekade 1950-an, Li Tiancai berhasil meraup uang pertamanya dari pasar obat serangga. Selama dua puluh tahun berikutnya, ia terus mengembangkan perusahaannya hingga makin besar.

Tahun 1979, dengan ambisi yang lebih besar, Li Tiancai mendirikan King Car Group dan masuk ke pasar minuman yang sangat menguntungkan. Produk pertamanya adalah King Car Root Beer, yang menantang langsung minuman nasional HeySong Sarsaparilla. Namun pasar minuman sudah jenuh dan penuh persaingan. Penjualan King Car Root Beer merosot, kerugian membengkak, dan beberapa saudara yang ikut mengumpulkan modal mulai mundur. Ini menjadi titik balik pertama dalam sejarah King Car.

Li Tiancai menyadari satu hal penting: dalam pasar yang matang, pendatang baru yang menantang raksasa lama secara frontal ibarat telur melawan batu. Kali ini, ia tidak menyerah. Tahun 1982, ia membuat keputusan yang mengejutkan semua orang: meluncurkan merek baru Mr. Brown Coffee dan memasuki pasar kopi kaleng.

Pada awal 1980-an, minum kopi di Taiwan masih dianggap gaya hidup elit — hanya bisa ditemukan di restoran Barat atau dinikmati mahasiswa luar negeri. Orang biasa paling-paling minum kopi instan 3-in-1. Tapi Li Tiancai berpikir berbeda. Ia memilih untuk bertaruh di pasar yang belum ada pesaingnya — kopi kaleng siap minum.

Ia tidak gegabah. Langkah pertama adalah membangun jalur distribusi sendiri, karena produk ini bukan kebutuhan umum dan tidak bisa bersaing lewat saluran tradisional yang sudah dikuasai pesaing besar. Ia menargetkan warung pinang yang tersebar di kota dan desa, yang bagi perusahaan besar dianggap terlalu kecil dan merepotkan. King Car bahkan membangun armada 400 truk pengiriman untuk menjangkau semua warung ini setiap hari. Sistem ini mahal dan melelahkan, tapi justru menjadi parit pelindung yang sulit ditiru oleh pesaing.

Karena timnya sering berinteraksi langsung dengan pemilik warung, mereka menemukan fakta penting: pelanggan utama warung pinang adalah pekerja biasa yang hanya butuh minuman untuk menghilangkan haus dan tetap terjaga. Kopi kaleng menjadi produk sempurna — diminum satu kaleng, dikombinasikan dengan pinang dan rokok, efeknya langsung terasa. Dengan begitu, King Car berhasil membangun pelanggan setia pertamanya.

Mr. Brown Coffee menjadi kopi kaleng pertama di Taiwan dan hampir tanpa pesaing. Dalam ingatan banyak orang Taiwan, kopi kaleng = Mr. Brown Coffee. Pesaing lama tidak tinggal diam. HeySong segera meluncurkan O'Shang Coffee dan mengiklankan produknya di mana-mana. Namun Li Tiancai sudah siap dengan strategi besar: ia meluncurkan beberapa sub-merek sekaligus, dengan tim yang bersaing internal — siapa yang tidak berhasil dijual, dihapus. Konsumen bisa memilih dari berbagai merek, tapi akhirnya tetap membeli produk King Car.

Selain itu, King Car menggempur pasar dengan iklan besar-besaran: TV, papan reklame, bahkan kendaraan umum. Selama bertahun-tahun, King Car termasuk dalam sepuluh perusahaan dengan pengeluaran iklan terbesar di Taiwan. Dengan kombinasi distribusi kuat, peluncuran produk cepat, strategi multi-merek, dan promosi agresif, King Car mengubah peta industri kopi di Taiwan.

Tahun 1994, King Car untuk pertama kalinya mengungguli HeySong dan menjadi pemimpin pasar minuman Taiwan, gelar yang dipertahankan selama tiga dekade berikutnya.

Ikuti Program & Podcast
(foto: Canva)
Apa & Siapa
Waktu Siar: Jumat

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解