Musim dingin di Taiwan cukup pendek, bahkan beberapa hari yang cerah dapat meningkatkan suhu udara, sehingga beberapa orang dapat mengenakan baju lengan pendek di jalanan. Namun, di hari-hari tertentu, saat hujan atau saat gelombang dingin datang, maka penghangat tangan atau yang dikenal sebagai “nuan nuan bao” (暖暖包) pun menjadi benda yang paling dicari di berbagai toko.
Pernahkah membayangkan bagaimana kondisinya di masa lalu?
Zaman dulu, musim dingin di wilayah Tiongkok Daratan, musim dingin datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, jarang terjadi di wilayah subtropis ataupun wilayah tropis yang ada di Taiwan. Oleh karena itu, tungku menempati sebagian besar kehidupan kaum literati kuno. Namun, dibandingkan dengan tungku besar dan permanen, sekitar abad ke-17 ada penemuan di mana orang-orang biasa membungkus pasir atau garam yang dipanaskan dengan kain dan meletakkannya di tangan untuk menghangatkan diri. Ada pula penghangat tangan atau penghangat lengan baju yang lebih kecil dan lebih halus dengan isi arang atau abu kayu, yang digunakan untuk menghangatkan diri sekaligus bermain, diminati oleh kaum golongan menengah ke atas.
Penghangat tangan di zaman dahulu, memiliki 4-6 sisi, sebagian merupakan penghangat tangan mewah berbahan enamel dengan lukisan figur. Beberapa kini tersimpan di Museum Istana Nasional (NPM) dan merupakan karya seni yang luar biasa. Setiap sisi (punggung) menampilkan panel yang dibingkai oleh pola-pola naga atau bentuk Tionghoa yang bergaya, yang di dalamnya terdapat gambar para cendekiawan yang sedang bercakap-cakap, membaca, dan menulis di halaman dan hutan. Fungsi utamanya adalah sebagai penghangat tangan dengan tungku.
Faktanya, meskipun tungku lengan mempertimbangkan berbagai kepraktisan pembakaran arang untuk kehangatan, tungku lengan penghangat tangan juga dapat berfungsi sebagai pembakar dupa.