Kurangnya perhatian terhadap estetika di Taiwan berdampak panjang, mulai dari rendahnya penghargaan terhadap industri seni hingga kualitas desain produk sehari-hari yang cenderung fungsional tanpa nilai visual. Banyak barang hanya dibuat agar "bisa dipakai", bukan untuk dinikmati secara estetis. Bahkan ketika desainer dilibatkan, hasilnya kerap ditertawakan karena budaya masyarakat yang memang tidak menaruh perhatian pada desain.
Fenomena ini terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari, dari sulitnya mencari produk rumah tangga dengan desain sederhana hingga pilihan fashion yang terbatas dan mahal. Merek fast fashion internasional di Taiwan dijual lebih mahal dengan pilihan lebih sedikit. Berbeda dengan Jepang atau Korea, di mana pakaian pria terjangkau, bervariasi, dan mudah diakses, fashion pria di Taiwan sering terpinggirkan di sudut pusat perbelanjaan atau terbatas pada gaya outdoor yang mahal.
Budaya "santai" juga membentuk sikap abai terhadap penampilan. Cuaca panas, kebiasaan naik motor, hingga tekanan sosial membuat pria yang berdandan rapi justru dianggap berlebihan atau aneh. Sejak sekolah hingga dunia kerja, berpakaian terlalu rapi sering diberi label negatif, sehingga banyak orang memilih aman dengan tampil seadanya.
Padahal, sejarah menunjukkan hal sebaliknya. Foto-foto era kolonial Jepang memperlihatkan pria Taiwan berpakaian rapi bahkan dalam kondisi ekonomi yang jauh lebih sulit. Berpakaian baik kala itu bukan soal kemewahan, melainkan etiket sosial dan bentuk penghormatan terhadap orang lain. Ini menegaskan bahwa persoalan utama hari ini bukan cuaca atau ekonomi, melainkan menurunnya kepekaan estetika.
Berpakaian rapi sejatinya bukan tentang menjadi paling tampan, melainkan meningkatkan citra diri dan rasa percaya diri. Penampilan bisa dilatih, dipelajari, dan disesuaikan dengan konteks. Alih-alih mengejek, budaya saling menghargai usaha berdandan justru akan mendorong kualitas hidup yang lebih baik—bukan hanya dalam fashion, tetapi juga dalam cara masyarakat memandang diri sendiri dan orang lain.