(Taiwan, ROC) --- Xiao Han (小寒), yang secara harfiah berarti Dingin Ringan, bukanlah sekadar pembuka musim dingin yang sejuk. Ia adalah gerbang menuju puncak musim dingin yang paling menggigit, sebuah periode di mana alam menuntut rasa hormat kita melalui hawa dingin yang menusuk tulang.
Pada tanggal 5 Januari 2025, saat Matahari mencapai posisi presisi 285 derajat di jalur ekliptika, kita akan memasuki periode matahari ke-23 ini, sebuah pengingat bahwa kehangatan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dirayakan.
Orang-orang kuno menamainya Xiao Han karena mereka percaya bahwa dingin yang sesungguhnya baru akan datang pada periode berikutnya, Da Han 大寒 (Dingin Besar). Namun, ironisnya, catatan meteorologi modern baik di Tiongkok maupun Taiwan membuktikan sebaliknya.
Seringkali, justru pada periode Xiao Han-lah suhu anjlok ke titik terendahnya. Ini karena Xiao Han jatuh tepat di jantung Tiga Sembilan Hari (San Jiu Tian 三九天), sebuah perhitungan kuno yang menandai sembilan hari ketiga setelah Titik Balik Musim Dingin sebagai waktu terdingin sepanjang tahun.
Xiao Han (小寒), yang secara harfiah berarti Dingin Ringan, adalah gerbang menuju puncak musim dingin yang paling menggigit. Foto: Google
Nenek moyang kita, yang hidup selaras dengan ritme alam, merangkum kebijaksanaan ini dalam pepatah-pepatah yang tajam dan penuh makna. Mereka tahu, jika Xiao Han justru terasa hangat, alam sedang tidak seimbang, dan Da Han akan datang dengan amarah dingin yang tak terduga.
Sebaliknya, sebuah pepatah meyakinkan, “Dingin ekstrem saat Xiao Han, maka manusia dan ternak aman.” Bagi mereka, dingin yang menggigit bukanlah kutukan, melainkan tanda bahwa musim berjalan normal, menjauhkan wabah penyakit dari manusia dan hewan ternak.
Dingin yang tepat pada waktunya adalah berkah terselubung yang menjanjikan musim semi yang hangat dan subur di tahun berikutnya.
Lalu, bagaimana cara mereka bertahan di tengah dingin yang paling pekat? Bukan dengan melawan, melainkan dengan merayakannya melalui tradisi yang menghangatkan jiwa dan raga.
Salah satu tradisi terpenting adalah menyantap Bubur Laba 臘八粥. Pada hari kedelapan di bulan kedua belas kalender Lunar, dapur-dapur akan mengepulkan aroma manis dari bubur istimewa ini.
Bayangkan semangkuk bubur hangat yang kaya rasa, perpaduan harmonis dari ketan, kacang-kacangan, kurma merah, biji teratai, longan, dan berbagai harta karun lainnya dari alam. Bubur ini bukan sekadar makanan, ia adalah persembahan untuk para Dewa dan leluhur, sekaligus simbol kebersamaan yang dibagikan kepada kerabat dan sahabat untuk mengusir hawa dingin bersama-sama.
Namun, Xiao Han juga datang dengan serangkaian pantangan yang lahir dari pengamatan cermat terhadap tubuh manusia. Para tetua akan menasihati untuk menghindari pendakian gunung atau perjalanan ke pantai, tempat di mana perbedaan suhu yang ekstrem dan tiupan angin dingin dapat dengan mudah memicu penyakit.

Bubur Laba 臘八粥. Foto: Wikipedia
Demikian pula, berolahraga terlalu pagi atau berlebihan sangat tidak dianjurkan. Dokter pengobatan Tiongkok modern, mengonfirmasi kearifan kuno ini, menjelaskan bahwa aktivitas saraf simpatik yang tinggi di pagi hari, ditambah dengan olahraga berat, dapat memicu penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Tubuh kita, menurut pengobatan Tiongkok, menjadi sangat rentan terhadap tiga musuh musim dingin, yaitu angin風, dingin寒, dan lembap濕. Tiga serangkai ini adalah penyerang utama sendi, menyebabkan nyeri, kaku, dan peradangan.
Untuk membangun benteng pertahanan dari dalam, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang menghangatkan dan menyehatkan ginjal, seperti kacang hitam, ubi yam, jahe, dan wolfberry.
Sementara itu, model kebugaran mengajarkan gerakan-gerakan modern seperti rolling back dan supine pigeon pose untuk menjaga kelenturan sendi.
Dampak Xiao Han tidak hanya dirasakan oleh manusia. Seluruh alam pun ikut merespons. Bagi para petani di Taiwan bagian tengah dan utara, ini adalah masa waspada tertinggi terhadap embun beku yang dapat menghancurkan hasil panen dalam semalam.

Untuk membangun benteng pertahanan dari dalam, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang menghangatkan dan menyehatkan ginjal, seperti kacang hitam, ubi yam, jahe, dan wolfberry. Foto: PIXABAY
Namun, bagi para nelayan, dingin yang sama justru membawa berkah. Perairan di sekitar Su'ao dan Keelung menjadi hidup dengan kemunculan ikan-ikan bernilai tinggi, seolah laut memberikan hadiahnya untuk mereka yang berani menantang dingin.
Pada akhirnya, Xiao Han adalah sebuah simfoni alam dan budaya yang kompleks. Ia mengajarkan kita tentang paradoks, di mana nama Dingin Ringan menyembunyikan dingin yang paling dalam.
Ia adalah pengingat bahwa kesehatan dan keselamatan seringkali datang dari tindakan sederhana seperti berbagi semangkuk bubur hangat atau memilih untuk tidak berolahraga di waktu yang salah.
Lebih dari sekadar penanda kalender, Xiao Han adalah undangan untuk berhenti sejenak, merasakan napas dingin bumi, menghormati kekuatannya, dan menemukan kehangatan, bukan hanya dari selimut tebal, tetapi dari kebijaksanaan, tradisi, dan kebersamaan.