(Taiwan, ROC) --- Di setiap sudut jalanan ramai, di sela-sela petak sawah yang subur, hingga di samping makam yang sunyi, sosoknya hadir dengan senyum kebapakan. Ia adalah dewa dengan seribu nama, Fu De Zheng Shen 福德正神 (Dewa Benar Berkah dan Kebajikan), Da Bo Gong 大伯公 (Kakek Buyut Agung), atau yang paling akrab di telinga, Tu Di Gong 土地公 (Kakek Dewa Tanah).
Meskipun kedudukannya mungkin yang paling rendah dalam hierarki Dewa-Dewi Taoisme yang megah, ia justru menjadi yang paling dekat dan paling dicintai oleh jutaan rakyat jelata. Ia adalah sahabat para petani, arsitek kemakmuran para pedagang, dan penjaga gerbang yang setia bagi arwah leluhur.
Jejaknya terukir dalam kitab-kitab kuno Tiongkok, sebuah bukti pemujaan yang telah berlangsung ribuan tahun. Pemujaan terhadap Tu Di Gong berakar dari rasa hormat dan syukur primordial manusia terhadap bumi, sumber kehidupan yang memberi panen dan menopang segalanya.
Awalnya, ia adalah She Shen 社神, dewa alam yang tak berwujud, yang disimbolkan oleh gundukan tanah atau tiang totem. Namun, seiring berjalannya waktu, sosok abstrak ini bertransformasi. Legenda mulai memberinya wajah, nama, dan kisah kepahlawanan, mengubahnya dari kekuatan alam menjadi figur yang bisa diajak bicara, seorang kakek bijaksana yang selalu mendengarkan.
![]()
Tu Di Gong 土地公 (Kakek Dewa Tanah). Foto: Wikipedia
Salah satu legenda paling populer mengisahkan tentang seorang pria bernama Zhang Fu De 張福德, seorang pejabat pajak pada masa Dinasti Zhou yang hidup lebih dari 3.000 tahun lalu. Ia dikenal sebagai pejabat yang jujur, adil, dan sangat berbelas kasih kepada rakyat miskin. Setelah wafat pada usia 102 tahun, posisinya digantikan oleh seorang pejabat korup yang menindas rakyat.
Dalam kerinduan mereka akan kebaikan Zhang Fu De, sebuah keluarga miskin mendirikan altar sederhana dari tumpukan batu untuk menghormatinya. Ajaibnya, keluarga itu seketika menjadi makmur. Kabar ini menyebar, dan pemujaan terhadap Zhang Fu De sebagai Dewa pembawa berkah pun dimulai.
Kisah lain yang tak kalah menyentuh melukiskan Zhang Fu De sebagai seorang pelayan setia. Ia ditugaskan mengantar putri tuannya yang masih kecil dalam sebuah perjalanan jauh. Di tengah jalan, badai salju ganas menerjang. Tanpa ragu, Zhang Fu De melepaskan pakaiannya untuk menyelimuti sang putri, melindunginya dari hawa dingin yang membekukan, sementara ia sendiri tewas membeku.
Dikatakan bahwa langit pun tersentuh oleh pengorbanannya, menganugerahinya gelar Dewa Benar Fu De, Dewa Besar Gerbang Langit Selatan. Kedua legenda ini, satu tentang keadilan, satu tentang kesetiaan, membentuk inti dari karakter Tu Di Gong, dewa yang lahir dari kebajikan manusia yang paling luhur.
Dalam perannya sebagai birokrat surga tingkat dasar, tugas Tu Di Gong sangatlah beragam. Ia adalah kepala desa di alam spiritual, menjaga ketertiban dan kedamaian di wilayahnya. Bagi para petani, ia adalah penjamin panen yang melimpah. Bagi para pedagang, ia adalah Dewa Kekayaan yang paling mudah diakses.
Setiap tanggal 2 dan 16 penanggalan Imlek, para pemilik usaha akan melakukan ritual Zuo Ya 作牙, mempersembahkan sesajen untuk memohon kelancaran bisnis.
Tu Di Gong 土地公 (Kakek Dewa Tanah). Foto: Wikipedia
Di Taiwan, perannya meluas hingga ke alam baka. Di depan setiap makam, akan ada altar kecil untuk Hou Tu 后土, sebutan untuk Tu Di Gong sebagai penjaga makam, yang bertugas melindungi arwah dari gangguan roh jahat.
Wajah sang dewa pun beraneka rupa, mencerminkan harapan para pemujanya. Di kota besar, ia tampil sebagai pejabat kaya bermahkota, memegang bongkahan emas atau tongkat Ruyi simbol kekuasaan. Di pedesaan, ia adalah seorang kakek sederhana bertongkat kayu. Di beberapa kuil, ia bahkan digambarkan menunggangi harimau, sebuah simbol kekuasaannya atas alam liar. Di sisinya, seringkali berdiri sang istri, Tu Di Po (Nenek Dewa Tanah), dan di bawah altarnya, berjongkok Hu Ye 虎爺 (Jenderal Harimau), pengawal setianya yang ganas.

Di sisi Tu Di Gong, seringkali berdiri sang istri, Tu Di Po (Nenek Dewa Tanah). Foto: Wikipedia
Kuilnya, yang disebut Fu De Ci, tersebar di mana-mana, menjadi bangunan keagamaan dengan jumlah terbanyak. Bentuknya bisa berupa kuil megah yang dibangun dari sumbangan para pedagang sukses, atau sekadar kuil semen mungil di pinggir jalan. Bahkan, di tengah sawah, kehadirannya bisa diwakili oleh tiga buah batu yang ditumpuk, atau sebatang bambu yang ditancapi kertas emas, sebuah simbol kesederhanaan iman yang mendalam.
Dari seorang dewa alam yang ditakuti, menjadi pahlawan legendaris, hingga menjadi sosok kakek yang ramah, evolusi Tu Di Gong adalah cerminan dari kebutuhan spiritual manusia. Ia mungkin tidak memiliki kekuatan untuk mengguncang langit dan bumi seperti dewa-dewa agung lainnya, tetapi kekuatannya yang sejati terletak pada kedekatannya. Ia adalah dewa yang selalu ada, mendengarkan keluh kesah tentang panen yang gagal, harapan akan bisnis yang ramai, dan doa untuk keselamatan keluarga. Dalam dunia yang terus berubah, Tu Di Gong tetap menjadi jangkar spiritual yang kokoh, sang penjaga yang paling setia dan paling membumi.