(Taiwan, ROC) --- Dengan nama unik yang terinspirasi dari pelafalan sel kanker (癌細胞Ai Xi Bao) dalam bahasa Mandarin, band asal Taiwan, icyball, telah membuktikan bahwa musik mereka sama menularnya. Dibentuk pada tahun 2013, kuartet yang terdiri dari vokalis Wang Chao-chuan (王昭權), bassis Nelson (吳冠男), keyboardist Meng Chieh-wen (蒙捷文), dan drummer Lin Shih-chieh (林士捷) ini telah mengukir jejak yang khas di kancah musik pop.
Perjalanan mereka dimulai di kompetisi musik kampus, di mana mereka mengasah kemampuan sebelum merilis EP pertama Bai Ri Meng 白日夢 pada 2016. Titik balik terjadi pada 2017 dengan album Share Your Love yang didanai oleh penggemar, membuktikan basis massa mereka yang solid. Setelah sempat vakum, mereka kembali pada tahun 2020 dengan identitas baru, mengubah nama dari Icy Ball menjadi icyball, dan merilis serangkaian karya yang semakin memantapkan posisi mereka.
Gaya musik icyball adalah sebuah koktail yang memabukkan. Mereka mengambil esensi groovy dari era 70-an dan 80-an, seperti Funk, Disco, dan R&B, lalu meraciknya dengan sentuhan elektronik modern. Hasilnya adalah sebuah sajian pop Mandarin kontemporer yang terasa segar namun sekaligus membangkitkan nostalgia, mengajak pendengar untuk berdansa di lantai disko imajiner.
Tak hanya musiknya yang penuh cerita, para personel icyball juga membagikan kisah kencan mereka yang tak terlupakan, dari yang romantis hingga yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sang drummer, Lin Shih-chieh, berbagi kisah romantisnya terbang ke Jepang demi menonton konser King Gnu bersama orang terkasih. "Bisa mendengarkan band favorit di kota yang istimewa bersama orang yang istimewa, itu adalah kebahagiaan," kenangnya.
Berbeda dengan Nelson sang bassis, yang niat hatinya ingin tampil gagah saat terjun payung di Selandia Baru, justru berakhir konyol. "Saya kira bisa berfoto keren di udara, tak disangka angin membuat mulut miring dan wajah berubah bentuk jadi sangat jelek," ujarnya sambil tertawa.
Namun, kisah paling mencekam datang dari sang vokalis, Wang Chao-chuan. Ia bercerita tentang pengalaman kencan saat kuliah, berkendara motor malam hari dari Taichung ke Danau Sun Moon Lake. Perjalanan yang seharusnya romantis berubah menjadi horor saat kabut tebal turun dan ia mulai mendengar suara asing memanggil namanya. Puncaknya, ia nyaris menabrak seorang pemulung tua misterius di tengah kabut, yang anehnya tidak terlihat oleh teman kencannya. "Setelah kejadian itu, setiap melewati kelenteng Dewa Bumi, saya akan selalu menyapa dengan sopan dalam hati," ungkapnya, sebuah pengalaman supranatural yang tak akan pernah ia lupakan.
