Ketika Chang Yung-fa (張榮發) menghembuskan napas terakhirnya pada 20 Januari 2016, dunia kehilangan seorang titan. Ia bukan sekadar pengusaha, ia adalah seorang raja, seorang visioner yang membangun sebuah imperium transportasi global dari nol. Lahir di tengah masa pendudukan Jepang pada 6 Oktober 1927, di sebuah desa nelayan kecil di Suao, Yilan, takdir seolah telah menuliskan bahwa hidupnya akan terikat erat dengan lautan.
Perjalanannya, dari seorang buruh kapal rendahan hingga dinobatkan sebagai Raja Kapal Peti Kemas Dunia, adalah sebuah epik tentang kegigihan, keberanian, dan visi yang melampaui zamannya.
Masa mudanya ditempa oleh takdir yang keras. Tumbuh di bawah kebijakan asimilasi Jepang, ia terpaksa menyandang nama Nagashima Hatsuo. Pada usia 17 tahun, dalam sebuah gejolak kenaifan remaja, ia sempat mendaftar untuk menjadi bagian dari Pasukan Kamikaze, sebuah keputusan yang untungnya tidak membawanya ke medan laga maut.
Namun, tragedi sesungguhnya datang setahun kemudian, saat ayahnya, seorang pelaut, tewas ketika kapalnya ditenggelamkan oleh pasukan Amerika Serikat dalam amukan Perang Pasifik. Di usia 18 tahun, ia menjadi tulang punggung keluarga.
Bukan di ruang kelas, melainkan di geladak kapal yang keras dan di tengah deru ombak, Chang Yung-fa menemukan universitas kehidupannya. Memulai karier dari titik terendah sebagai seorang petugas kargo, ia melahap setiap buku tentang pelayaran yang bisa ia temukan. Dengan ketekunan yang luar biasa, ia belajar secara otodidak.
Setelah 15 tahun mengarungi samudra dan mempelajari seluk-beluk industri pelayaran dari dalam, ia merasa siap untuk menjadi nakhoda bagi takdirnya sendiri.
Dari seorang buruh kapal rendahan, Chang Yung-fa dinobatkan sebagai Raja Kapal Peti Kemas Dunia. Foto: YAHOO
Kejeniusan bisnisnya tak terbantahkan. Dengan hanya satu kapal kargo tua, ia berani membuka jalur pelayaran samudra pertama dari Taiwan ke Timur Tengah. Ia menantang kartel pelayaran Eropa yang telah berkuasa selama ratusan tahun dan menang.
Puncaknya adalah ketika ia meluncurkan layanan pelayaran peti kemas keliling dunia dua arah, sebuah langkah revolusioner yang mengukuhkan dominasi Evergreen di panggung global. Keberaniannya merambah ke industri penerbangan dengan EVA Air, yang secara konsisten diakui sebagai salah satu maskapai terbaik dunia, menunjukkan visinya yang tak terbatas pada satu moda transportasi.
Pada tahun 1968, dengan modal keberanian dan sebuah kapal kargo bekas, ia menancapkan tonggak sejarah dengan mendirikan Evergreen Marine Corporation. Inilah awal dari sebuah revolusi. Hanya dalam waktu 17 tahun, ia menggebrak dunia pelayaran dengan strategi kontainerisasi yang brilian, membangun armada kapal peti kemas terbesar di dunia.
Namun, ambisinya tidak berhenti di lautan. Ketika Taiwan membuka langitnya, ia melihat sebuah samudra baru yang bisa ditaklukkan. Pada tahun 1989, ia mendirikan EVA Air, maskapai penerbangan internasional swasta pertama di Taiwan, mengubah Evergreen menjadi sebuah grup transportasi multimoda yang disegani di seluruh dunia.
Namun, tidak semua pelayarannya berjalan mulus. Sebuah mimpi besar untuk mendirikan Institut Penelitian Medis Ion Berat guna memerangi kanker, harus kandas di tengah jalan akibat benturan dengan tembok birokrasi pemerintah. Kemarahannya saat mengumumkan pembubaran proyek tersebut menunjukkan sisi lain dari karakternya, seorang visioner yang tidak sabar dengan halangan yang ia anggap tidak masuk akal.
Namun, pengaruh Chang Yung-fa jauh melampaui ruang rapat perusahaan. Ia adalah seorang diplomat rakyat yang paling efektif bagi Taiwan. Di saat Taiwan menghadapi isolasi diplomatik, jaringan bisnis globalnya menjadi jembatan komunikasi yang tak ternilai.
Ia berteman akrab dengan para pemimpin dunia, dari Wanita Besi Inggris, Margaret Thatcher, yang pernah ia undang secara pribadi untuk meresmikan kantornya di London, hingga lima presiden Panama berturut-turut.
Ia menggunakan pengaruh ekonominya bukan hanya untuk keuntungan perusahaan, tetapi juga untuk membuka pintu bagi Taiwan di panggung internasional, sebuah peran yang membuatnya dianugerahi berbagai medali kehormatan dari berbagai negara.

Dengan hanya satu kapal kargo tua, Chang Yung-fa berani membuka jalur pelayaran samudra pertama dari Taiwan ke Timur Tengah. Foto: YAHOO
Di panggung politik dalam negeri, ia adalah seorang pemain catur yang ulung dan pragmatis. Hubungannya yang dekat dengan tiga presiden, Lee Teng-hui (李登輝), Chen Shui-bian (陳水扁), dan Ma Ying-jeou (馬英九), seringkali diwarnai pasang surut.
Ia bisa menjadi penyokong dana utama bagi seorang politisi, tetapi tak akan segan melontarkan kritik pedas jika kebijakan mereka dianggap merugikan masa depan ekonomi Taiwan.
Ketika dituduh sebagai pedagang tanpa tanah air karena sikap politiknya yang fleksibel, ia menjawab dengan tegas, "Yang saya perhatikan adalah masa depan Taiwan." Baginya, stabilitas hubungan lintas selat adalah kunci kemakmuran, sebuah keyakinan yang ia pegang teguh hingga akhir hayatnya.
Bahkan setelah kematiannya, ombak di sekitar namanya tidak kunjung reda. Wasiatnya yang mewariskan seluruh kekayaannya kepada putranya, Chang Kuo-wei (張國煒), memicu badai perebutan warisan di dalam keluarganya, menjadi drama hukum yang baru berakhir setelah bertahun-tahun.
Penghargaan mengalir dari seluruh penjuru duniadari gelar kebangsawanan Inggris hingga bintang jasa tertinggi dari Italia, Jepang, dan Jerman, semua menjadi saksi bisu atas pengaruh globalnya.
Chang Yung-fa telah berlayar menuju sauh terakhirnya, namun riak gelombang dari warisan yang ia tinggalkan akan terus terasa untuk generasi yang akan datang.

Pada tahun 1989, Chang Yung-fa mendirikan EVA Air, maskapai penerbangan internasional swasta pertama di Taiwan. Foto: YAHOO
Di masa senjanya, fokus hidupnya bergeser ke arah filantropi. Melalui Yayasan Chang Yung-fa, ia mendedikasikan kekayaannya untuk bantuan medis, pendidikan moral, hingga mendirikan Evergreen Symphony Orchestra dan Museum Maritim.
Ia sangat bersemangat mendorong pemuda miskin untuk bekerja di kapal, sebuah jalan yang ia yakini dapat membangun kekayaan sekaligus menempa karakter.
Namun, di sisi lain, kebijakannya yang keras tanpa serikat pekerja di dalam perusahaannya juga memicu kontroversi.
Karakternya adalah sebuah paradox, seorang bos yang sangat tegas, dibentuk oleh didikan gaya Jepang yang disiplin, namun di saat yang sama, seorang dermawan yang percaya bahwa seorang pengusaha yang sukses harus memiliki hati yang bersyukur dan membalas budi kepada masyarakat.
Ia adalah sosok yang tangguh dan tak kenal takut laksana badai di lautan, namun juga memiliki kelembutan dan keluasan hati selayaknya samudra yang tenang.