友情的泗水蛋糕
Lapis Surabaya dan Persahabatan yang Tidak Terlupakan
Lapis Surabaya bukan kue yang tergesa-gesa.
Ia dibuat dari kuning telur banyak sekali.
Dipanggang lapis demi lapis.
Kuning, coklat, kuning.
Seperti persahabatan lama.
Tidak instan.
Tidak sering disapa.
Tapi terbentuk perlahan oleh waktu.
Kue itu datang sebagai hadiah
dari sahabat semasa SMA.
Seseorang yang pernah berbagi bangku, tawa,
dan mungkin juga kegelisahan masa remaja.
Bertahun-tahun berlalu.
Hidup berubah arah.
Namun rasa legit itu… tetap sama.
Dan di saat itu, kita sadar:
ada hubungan yang tidak perlu dirawat setiap hari
untuk tetap utuh.
Rasa manis yang menempuh waktu dan jarak
“Lapis Surabaya dan Persahabatan yang Pernah Remaja”
Di tahun 2026 ini, saya akan sering-sering berbagi cerita tentang persahabatan, tentang rasa yang terlupakan dan mungkin teman-teman Jmers punya tambahan saran untuk saya atau juga ingin berbagi cerita, saya menantikannya dengan penuh suka cita.
Ada aroma yang tiba-tiba bisa membawa kita pulang.
Bukan ke rumah fisik, tapi ke waktu yang dulu pernah kita jalani.
Hari ini, Jurnal Maria ingin bercerita tentang lapis Surabaya—
kue yang tampak sederhana, tapi penuh cerita.
Nah sebelum memulai, siapa saja yang belum pernah mencicipi rasa khas lapis Surabaya? Kalau belum, wah, cepat-cepat order ya ke toko kue di Surabaya. Dan tentu saya tidak tahu mana yang disukai, tapi menurut pengalaman saya, semua pasti enak, karena selama ia berani buka toko, maka pasti enak. Apalagi orang Surabaya adalah jago kuliner. Kalau tidak enak, mungkin tidak bisa bertahan.