Tahukah kamu jika tanggal 28 Februari merupakan hari bersejarah dengan 2 peristiwa kelam?
Yang Pertama adalah Insiden 28 Februari terkait Teror Putih
Selama 50 tahun pemerintahan Jepang di Taiwan (1895–1945), Taiwan mengalami perkembangan ekonomi dan peningkatan standar hidup, berfungsi sebagai basis pasokan untuk pulau-pulau utama Jepang. Setelah Perang Dunia II, Taiwan ditempatkan di bawah kendali administratif Republik Tiongkok untuk memberikan stabilitas sampai pengaturan permanen dapat dibuat. Chen Yi, gubernur jenderal Taiwan, tiba pada tanggal 24 Oktober 1945, dan menerima gubernur Jepang terakhir, Ando Rikichi, yang menandatangani dokumen penyerahan pada hari berikutnya. Chen Yi kemudian memproklamirkan hari itu sebagai Hari Pengembalian untuk menjadikan Taiwan bagian dari Republik Tiongkok.
Setelah Taiwan menjadi bagian dari Republik Tiongkok, kondisi ekonomi Taiwan ternyata tidak sebaik sebelumnya. Inflasi yang parah menyebabkan Bank Taiwan mengeluarkan cek dalam denominasi 1 juta Dolar Taiwan (NT$1.000.000) pada tahun 1949.
Persepsi masyarakat Taiwan terhadap pemerintahan Jepang lebih positif daripada persepsi di bagian lain Asia Timur dan Tenggara yang berada di bawah imperialisme Jepang. Meski awalnya pasukan Kuomintang dari Tiongkok Daratan disambut baik oleh masyarakat Taiwan. Perilaku mereka yang kasar dan pemerintahan KMT yang korup dengan cepat menyebabkan ketidakpuasan masyarakat Taiwan selama periode pascaperang. Sebagai gubernur jenderal, Chen Yi mengambil alih dan mempertahankan sistem monopoli negara Jepang dalam tembakau, gula, kamper, teh, kertas, bahan kimia, penyulingan minyak bumi, pertambangan, dan semen, sama seperti cara kaum Nasionalis memperlakukan orang-orang di wilayah bekas kekuasaan Jepang lainnya (yang membuat Chen Yi mendapat julukan "perampok".
Pada malam tanggal 27 Februari 1947, tim penegak hukum Biro Monopoli Tembakau di Taipei pergi ke distrik Taiheichō [zh] (太平町), Twatutia (Dadaocheng), di mana mereka menyita rokok selundupan dari seorang janda berusia 40 tahun bernama Lin Jiang-mai (林江邁) di Rumah Teh Tianma. Ketika ia meminta rokoknya dikembalikan, salah satu pria memukul kepalanya dengan gagang senjatanya, mendorong kerumunan warga Taiwan di sekitarnya untuk menantang agen Monopoli Tembakau. Saat mereka melarikan diri, seorang agen menembakkan senjatanya ke arah kerumunan, mengenai seorang warga yang meninggal keesokan harinya. Kerumunan, yang telah menyimpan perasaan frustrasi akibat pengangguran, inflasi, dan korupsi terhadap pemerintah Nasionalis, mencapai titik puncaknya. Kerumunan memprotes kepada polisi dan gendarme tetapi sebagian besar diabaikan. Para pengunjuk rasa berkumpul keesokan paginya di sekitar Taipei, menyerukan penangkapan dan pengadilan terhadap agen-agen yang terlibat dalam penembakan hari sebelumnya, dan akhirnya menuju ke Kantor Gubernur Jenderal, di mana pasukan keamanan mencoba membubarkan kerumunan. Tentara melepaskan tembakan ke arah kerumunan, menewaskan sedikitnya tiga orang. Hari inilah yang kemudian menjadi peringatan sejarah di Taiwan.
Peristiwa kedua: Pembunuhan Keluarga Lin di tahun 1980
Peristiwa ini sedang ramai dibahas karena peristiwa terkait dijadikan bahan proyek film berjudul “Murder of the Century” (世紀血案) setelah diberitakan bahwa film tersebut dibuat tanpa persetujuan keluarga.
Bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi?
Pada 28 Februari 1980, saat pembela demokrasi Lin I-hsiung (林義雄) dipenjara dan menunggu persidangan atas tuduhan pemberontakan karena partisipasinya dalam Insiden Formosa.
Insiden Formosa, juga dikenal sebagai Insiden Kaohsiung, merujuk pada tindakan keras polisi di bawah rezim Partai Nasionalis Tiongkok (KMT) saat itu terhadap demonstrasi yang diadakan oleh Majalah Formosa dan politisi oposisi pada 10 Desember 1979, untuk memperingati Hari Hak Asasi Manusia.
Saat itu, seseorang pergi ke rumah Lin I-hsiung, menikam dan membunuh ibu Lin, yang berusia 60-an, dan kedua putrinya yang kembar, berusia tujuh tahun, sementara putri sulungnya, yang berusia sembilan tahun, mengalami luka parah.
Pada saat kejadian, para penyelidik mengumpulkan enam sidik telapak tangan dan 12 sidik jari dari tempat kejadian, dengan semua sidik jari cocok dengan korban atau kerabat dan teman keluarga, kecuali 2 buah sidik jari.
Kasus ini diselidiki selama dua tahun tanpa mengidentifikasi tersangka.
Pada Maret 2007, Biro Investigasi Kriminal memeriksa kembali bukti fisik menggunakan teknologi forensik terbaru yang tersedia pada saat itu.
Mereka mencocokkan salah satu sidik jari yang tidak dikenal dengan seorang petugas forensik dari Divisi Investigasi Kriminal Departemen Kepolisian Taipei, sementara satunya lagi tetap tidak dikenal.
Investigasi dibuka kembali untuk keempat kalinya pada Maret 2009, dengan Kantor Kejaksaan Tinggi menginstruksikan divisi sidik jari biro untuk memeriksa sekali lagi dengan basis data sidik jari, meskipun tidak ditemukan kecocokan.
Seiring kemajuan analisis forensik, pada Februari 2024, Yuan Pengawas secara resmi meminta Kementerian Kehakiman untuk membentuk gugus tugas khusus guna melanjutkan penyelidikan kasus tersebut. Pelaku hingga hari ini masih belum ditemukan.