Peristiwa 228 merujuk pada pemberontakan anti-pemerintah yang dimulai pada 28 Februari 1947 di Taiwan. Ketegangan ini dipicu oleh insiden kecil sehari sebelumnya, ketika petugas kepolisian menangani seorang janda penjual rokok ilegal dengan kasar di Taipei. Kejadian tersebut memicu kemarahan warga yang memang sudah merasa tidak puas terhadap korupsi, inflasi, dan salah urus pemerintahan oleh Partai Kuomintang (KMT) yang baru tiba dari Tiongkok daratan setelah Perang Dunia II.
Protes yang awalnya damai dengan cepat berubah menjadi kerusuhan di seluruh pulau. Menanggapi hal ini, pemerintah mengirimkan bala bantuan militer dari daratan Tiongkok yang kemudian melakukan pembersihan berdarah. Ribuan orang, mulai dari warga sipil hingga kaum intelektual dan elit lokal, tewas, hilang, atau dipenjara dalam masa yang menandai dimulainya era "Teror Putih".
Selama puluhan tahun, peristiwa ini menjadi topik tabu yang dilarang untuk dibicarakan di depan umum. Namun, seiring dengan gerakan demokratisasi Taiwan pada akhir 1980-an, tabir kerahasiaan mulai terbuka. Pemerintah Taiwan akhirnya secara resmi meminta maaf pada tahun 1995, mendirikan monumen peringatan, dan menetapkan tanggal 28 Februari sebagai hari libur nasional yang disebut Hari Peringatan Perdamaian.
Bagi masyarakat Taiwan modern, peringatan 228 bukan sekadar mengenang luka lama, melainkan simbol perjuangan menuju demokrasi dan kebebasan. Peringatan ini menjadi pengingat penting akan nilai-nilai hak asasi manusia dan pentingnya persatuan di tengah keberagaman etnis. Melalui pendidikan sejarah dan transparansi informasi, Taiwan berupaya memastikan bahwa tragedi serupa tidak akan pernah terulang kembali, menjadikan masa lalu yang kelam sebagai fondasi bagi masa depan yang lebih terbuka dan adil.
Lagu: Puasa